Blogger Jateng

Contoh Penerapan Teori Belajar Behavioristik dalam Pembelajaran di Kelas!

Nyero.ID - Teori belajar behavioristik menjadi landasan penting dalam dunia pendidikan Indonesia, yaitu seseorang dianggap telah belajar jika dapat menunjukkan perubahan dalam perilaku mereka.

Pendekatan Teori behaviorisme memusatkan perhatian pada pembentukan tingkah laku yang dapat diamati, meletakkan dasar pada hubungan antara stimulus dan respons. 

Berbeda dengan teori kognitif yang menekankan aspek mental yang tidak terlihat langsung, pendekatan behaviorisme menekankan hasil belajar yang konkret dan dapat diukur. 

Hasil belajar diperoleh melalui penguatan respons terhadap lingkungan belajar, baik secara internal maupun eksternal.

Belajar dalam konteks behaviorisme diartikan sebagai penguatan ikatan, sifat, dan kecenderungan untuk mengubah perilaku. 

Dalam penerapannya, teori ini memandang setiap tingkah laku siswa sebagai respons terhadap lingkungan, dan keseluruhan tingkah laku dihasilkan dari proses belajar. 

Penerapan kembali pendekatan ini dianggap dapat meningkatkan kualitas pembelajaran secara keseluruhan.

Contoh Penerapan Teori Belajar Behavioristik dalam Pembelajaran di Kelas!

Dengan menekankan perubahan perilaku yang dapat diamati, pendekatan ini memberikan landasan yang kuat untuk menyusun strategi pembelajaran yang efektif

Bahkan bisa dikatakan penerapan teori behaviorisme menjadi pilar penting dalam pembelajaran di Indonesia, dan diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pembelajaran dan pengembangan siswa secara keseluruhan.

Teori Belajar Behavioristik Menurut para Ahli

Teori Belajar Behavioristik, yang dikenal sebagai pendekatan pembelajaran berbasis perilaku, telah menjadi subjek kajian yang mendalam oleh para ahli psikologi dan pendidikan. 

Berikut beberapa pandanga para ahli pendidikan terkait pengertian terori belajar Behavioristik:

1. Edward Thorndike

Sebagai pionir dalam studi psikologi pendidikan, Edward Thorndike membawa kontribusinya melalui teori koneksionisme. 

Thorndike melihat belajar sebagai proses pembentukan asosiasi antara stimulus dan respons. 

Konsep "hukum efek" yang dikembangkannya memberikan dasar pemahaman tentang konsekuensi positif dan negatif dalam membentuk perilaku siswa.

2. Ivan Petrovich Pavlov

Ivan Pavlov, fisikawan Rusia, memperkenalkan konsep kondisi klasik, menjadi landasan utama bagi teori belajar behavioristik. 

Melalui eksperimen dengan anjing, Pavlov menunjukkan bahwa respon refleks dapat dipicu oleh stimulus sebelumnya tidak terkait. 

Pemahaman ini menggambarkan bagaimana stimulus dapat mempengaruhi pembentukan perilaku.

3. Edwin Guthrie

Edwin Guthrie menekankan prinsip kontiguity, dengan fokus pada hubungan simultan dan berulang antara stimulus dan respons yang membentuk respons tertentu. 

Pendekatan Edwin memberikan wawasan tentang bagaimana pengulangan hubungan antara stimulus dan respons dapat membentuk perilaku.

4. John B. Watson

John B. Watson, bapak behaviorisme, menggeser fokus dari proses mental ke perilaku teramati. 

Watson menekankan bahwa perilaku manusia dapat diukur dan diamati secara ilmiah, memperkuat prinsip-prinsip behavioristik. 

Pendekatannya membuka jalan bagi pemahaman yang lebih terukur tentang bagaimana stimulus memengaruhi respons.

5. Clark Hull

Clark Hull menggabungkan psikologi dan biologi dalam teorinya.

Ia menekankan pentingnya kebutuhan dan dorongan dalam memotivasi perilaku, membentuk suatu hubungan yang menghubungkan prinsip-prinsip psikologi dengan dasar biologis pembelajaran.

Dengan kata lain, Hull menciptakan suatu pemahaman yang menghubungkan aspek mental dan fisik dalam memahami bagaimana dan mengapa kita belajar.

6. Burrhus Frederic Skinner

Burrhus Frederic Skinner, dengan konsep operant conditioning, mengenalkan prinsip penguatan yang memengaruhi perilaku. 

Skinner menyatakan bahwa perilaku yang diperkuat cenderung diulang, sementara perilaku yang dihukum cenderung dihentikan.

Kontribusi Burrhus membuka jalan bagi pemahaman lebih lanjut tentang bagaimana konsekuensi dapat membentuk dan mengubah perilaku.

Dengan kontribusi masing-masing, para pionir ini membentuk kerangka kerja teoritis yang kaya, memberikan wawasan yang mendalam tentang proses belajar dan pembentukan perilaku dalam konteks pendidikan.

Prinsip dan Strategi Penerapan Teori Behavioristik dalam Pembelajaran

Dalam konteks pembelajaran, guru memainkan peran kunci dalam memberikan stimulus (S) dan merespon respons (R) siswa. 

Prinsip-prinsip dan strategi penerapan teori ini memainkan peran vital dalam mencapai keberhasilan belajar peserta didik.

Dalam konteks ini, fokus utama adalah pada perubahan tingkah laku sebagai indikator keberhasilan belajar. 

Prinsip-prinsip behavioristik menyoroti hubungan antara stimulus, respons, dan peran penting reinforcement dalam membentuk perilaku yang diinginkan. 

Berikut beberapa prinsip dasar teori belajar behavioristik yang perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran di kelas:

1. Perubahan Tingkah Laku sebagai Tanda Belajar

Teori behavioristik menganggap bahwa seseorang telah belajar jika ada perubahan dalam tingkah lakunya. 

Artinya, jika ada perubahan yang dapat diamati dalam perilaku seseorang, itu menandakan bahwa proses belajar telah terjadi. 

Bagi guru, ini berarti penting untuk mengamati perubahan-perubahan tersebut sebagai tanda keberhasilan dalam pembelajaran. 

Dengan cara ini, guru dapat memantau kemajuan siswa dan menilai pencapaian mereka.

2. Stimulus dan Respons sebagai Poin Fokus Utama

Prinsip ini menekankan bahwa stimulus (pemicu) dan respons (reaksi) memiliki peran utama dalam proses belajar. 

Artinya, apa yang memicu respons dari siswa dan bagaimana mereka meresponsnya merupakan fokus utama. 

Dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang dapat diamati, seperti stimulus yang diberikan dan respons yang dihasilkan, guru dapat memiliki kerangka kerja yang jelas untuk menganalisis proses pembelajaran.

3. Reinforcement sebagai Kunci Pembentukan Perilaku

Konsep reinforcement (penguatan), baik dalam bentuk positif maupun negatif, dianggap sebagai faktor kunci dalam membentuk perilaku yang diinginkan. 

Ini berarti memberikan penguatan atau hadiah setelah perilaku yang diinginkan muncul, atau mengurangi konsekuensi negatif setelah perilaku yang tidak diinginkan. 

Dengan menggunakan reinforcement, guru dapat meningkatkan kekuatan respons siswa, menciptakan motivasi, dan memperkuat pola perilaku yang diinginkan.

Dengan memahami prinsip-prinsip dasar ini, guru dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dan memperhatikan perubahan-perubahan perilaku siswa sebagai tanda keberhasilan dalam pembelajaran.

Setalah memahami prinsip dasar teori behavioristik dalam pembelajaran, seorang guru perlu memahami strategi efektif penerapan teori belajar ini. Berikut beberapa strategi yang umum digunakan:  

1. Analisis Kemampuan Awal Siswa

Sebelum menerapkan teori behavioristik, guru perlu memahami dengan baik kemampuan awal dan karakteristik siswa. 

Ini termasuk memahami pengalaman siswa, latar belakang sosio-kultural mereka, serta tingkat pertumbuhan dan perkembangan. 

Dengan pemahaman yang baik tentang hal ini, guru dapat merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan individu setiap siswa.

2. Rencanakan Materi Pembelajaran yang Tepat

Ada dua pendekatan dalam merencanakan materi pembelajaran: menyesuaikan siswa dengan materi atau menyesuaikan materi dengan siswa. 

Penggunaan tes prasyarat membantu guru untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa sebelum materi diajarkan.

Hal ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar materi dapat disampaikan secara efektif sesuai dengan pemahaman siswa.

3. Sesuaikan Strategi Pembelajaran

Analisis kemampuan awal siswa menjadi dasar dalam merancang strategi pembelajaran yang tepat.

Materi yang sudah dikenal oleh sebagian besar siswa dapat diajarkan secara kolaboratif, sementara materi yang belum dikenal memerlukan pendekatan yang lebih mendalam di dalam kelas. 

Dengan cara ini, guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung perkembangan siswa.

Dengan mengintegrasikan teori behavioristik dengan analisis yang cermat terhadap kebutuhan individual siswa, strategi ini tidak hanya menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung, tetapi juga memastikan bahwa setiap siswa memiliki peluang maksimal untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran mereka.

Langkah Umum dalam Penerapan Teori Behavioristik di Kelas

Dalam rangka mencapai pembelajaran yang terarah dan efektif, penerapan teori behavioristik memerlukan serangkaian langkah yang cermat. 

Di bawah, beberapa langkah-langkah umum yang dapat diambil oleh guru untuk membimbing siswa menuju pencapaian tujuan pembelajaran.

1. Identifikasi Tujuan Pembelajaran

Langkah awal yang penting dilakukan guru adalah mengidentifikasi tujuan pembelajaran. 

Dengan memahami dengan baik apa yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran, guru dapat mengarahkan proses pembelajaran dengan lebih efektif. 

Tujuan pembelajaran yang spesifik memberikan landasan yang kuat untuk pengembangan strategi pembelajaran yang sesuai.

2. Analisis Pembelajaran

Proses ini melibatkan pemahaman mendalam tentang karakteristik siswa dan kemampuan awal mereka.

Guru perlu mengenali kebutuhan individual siswa untuk menyesuaikan pendekatan pembelajaran.

Analisis ini memberikan wawasan tentang bagaimana menyusun materi yang relevan dengan perkembangan siswa.

3. Identifikasi Indikator Keberhasilan Belajar

Penetapan indikator keberhasilan belajar menjadi pedoman penting yang harus dimiliki guru. 

Ini membantu guru dalam mengukur sejauh mana siswa mencapai tujuan pembelajaran. 

Dengan memiliki ukuran kinerja yang jelas, guru dapat memberikan umpan balik yang relevan dan mendukung perkembangan siswa.

4. Kembangkan Bahan Ajar dan Strategi Pembelajaran

Guru harus mengembangkan materi ajar dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa untuk menciptakan pengalaman belajar yang menarik dan relevan.

5. Observasi Stimulus dan Respons 

Guru perlu mengamati stimulasi yang diberikan kepada siswa dan respons yang dihasilkan,seperti latihan, tugas, atau tes. 

Respons siswa harus diamati dan dianalisis untuk memahami sejauh mana pemahaman mereka.

Observasi ini menjadi dasar bagi evaluasi dan penyempurnaan lebih lanjut.

6. Berikan Reinforcement

Langkah kunci dalam teori behavioristik adalah pemberian reinforcement (penguatan). Guru perlu memberikan reinforcement, baik positif maupun negatif, untuk memperkuat respons yang diinginkan.

Guru harus memotivasi siswa untuk mengulangi perilaku yang positif dan menghindari perilaku negatif.

7. Revisi Kegiatan Pembelajaran

Setelah melihat respons siswa, guru harus siap untuk merevisi kegiatan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan efektivitasnya. 

Ini memastikan bahwa metode pembelajaran dapat berkembang seiring waktu.

Dengan merangkai langkah-langkah ini secara bijak, guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang responsif dan terstruktur. 

Penerapan teori behavioristik bukan hanya tentang mengajarkan, tetapi juga membimbing siswa menuju pencapaian potensi mereka secara optimal.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Behavioristik

Dalam dunia pendidikan, Teori Belajar Behavioristik telah menjadi landasan yang signifikan dalam pemahaman tentang proses pembelajaran. 

Dalam kajian ini, kita akan melihat kelebihan dan kekurangan teori ini melalui lensa para ahli yang telah merinci prinsip-prinsipnya.

Setelah kami uraikan beberapa penjelasan di atas, ada beberapa kelebihan dan kekurangan teori belajar behavioristik yang perlu anda perhatikan. 

Kelebihan Teori Behavioristik:

  1. Peningkatan Keterlibatan Guru: Teori ini membuat guru lebih terlibat dan peka terhadap situasi belajar. Mereka mendorong siswa untuk belajar mandiri sebelum meminta bantuan. 
  2. Pembentukan Perilaku yang Diinginkan: Teori ini membantu membentuk perilaku yang diinginkan melalui pemberian penghargaan positif dan pengurangan konsekuensi negatif.
  3. Optimalisasi Bakat dan Kecerdasan: Dengan latihan berulang, teori ini membantu mengoptimalkan bakat dan kecerdasan siswa.
  4. Struktur Pelajaran yang Hierarkis: Materi diajarkan dari yang sederhana ke kompleks, memecah pembelajaran menjadi bagian-bagian yang lebih mudah dicerna.
  5. Fleksibilitas Stimulus-Respons: Guru dapat mengubah cara mereka mengajarkan sampai siswa memberikan respons yang diinginkan.
  6. Cocok untuk Pembiasaan dan Praktek: Metode ini cocok untuk mempelajari keterampilan yang memerlukan praktek dan pengulangan.
  7. Dominasi Peran Orang Dewasa: Cocok untuk anak-anak yang masih memerlukan bimbingan dan respons langsung dari guru.

Kelemahan Teori Behavioristik:

  1. Keterbatasan Bahan Pelajaran yang Siap: Materi ajar terkadang terlalu kaku dan kurang fleksibel.
  2. Tidak Cocok untuk Setiap Pelajaran: Tidak semua pelajaran cocok dengan pendekatan ini, terutama yang membutuhkan kreativitas.
  3. Pandangan Pasif terhadap Siswa: Siswa dianggap sebagai pendengar pasif, fokus pada menghafal daripada pemahaman.
  4. Penggunaan Hukuman yang Kontroversial: Beberapa menganggap penggunaan hukuman sebagai metode yang kontroversial.
  5. Ketergantungan pada Motivasi Eksternal: Siswa tergantung pada motivasi dari luar, seperti pujian atau hadiah.
  6. Kurang Mendukung Kreativitas dan Inisiatif: Teori ini cenderung mengurangi kreativitas dan inisiatif siswa.
  7. Orientasi pada Guru sebagai Pusat Pembelajaran: Pembelajaran berpusat pada guru, kurang mendukung siswa untuk belajar secara mandiri.
  8. Potensi Tidak Menyenangkan: Penerapan yang salah dapat membuat pembelajaran menjadi tidak menyenangkan bagi siswa.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Teori Belajar ini memberikan kontribusi penting dalam pemahaman tentang proses pembelajaran. 

Penting untuk mempertimbangkan keberagaman metode pembelajaran untuk mendukung perkembangan siswa secara holistik.

Baca Juga:

Kesimpulan

Penerapan teori behavioristik dalam pembelajaran, melalui pemahaman prinsip-prinsip dan strategi yang tepat, dapat memaksimalkan pencapaian tujuan pembelajaran. Guru perlu beradaptasi dengan karakteristik siswa dan menyusun metode pembelajaran yang responsif untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan.

Muh. Akbar
Muh. Akbar "Live with an attitude of gratitude for the experiences that shape you, and learn with an insatiable hunger for understanding the world and your place in it."