Blogger Jateng

Teori Belajar & Capaian Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka!

Nyero.ID - Penerapan capaian pembelajaran dalam kurikulum Merdeka merupakan sebuah langkah pembaharuan dari Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) yang sebelumnya ada dalam kurikulum 2013, di mana capaian pembelajaran kini diukur berdasarkan fase perkembangan peserta didik, berbeda dengan kurikulum 2013 yang diukur per tahun sesuai tingkat kelas mereka. 

Pendekatan ini dirancang dengan mengadopsi perspektif konstruktivis, yang meyakini bahwa proses pembelajaran sebaiknya melibatkan siswa secara aktif dalam interaksi dengan lingkungannya, yang dipandu oleh guru melalui rangkaian stimulasi.

Menurut teori konstruktivisme, pembelajaran adalah suatu proses di mana siswa harus membangun pengetahuan mereka sendiri. Oleh karena itu, siswa perlu terlibat dalam berbagai aktivitas, berpikir secara aktif, membentuk konsep, dan mengembangkan pemahaman terhadap materi yang dipelajari. Guru, sebagai perancang dan pengembang program pembelajaran, memiliki tugas untuk memfasilitasi agar proses interaksi ini dapat berlangsung dengan lancar.

Teori konstruktivisme, yang dijelaskan oleh berbagai ahli, secara umum memiliki dua ide utama: pertama, pembelajar yang aktif dalam membangun pengetahuan mereka sendiri, dan kedua, interaksi sosial memainkan peran penting dalam proses ini. 

Teori Belajar dan Capaian Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka

Konstruktivisme dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama: pertama, konstruktivisme psikologis atau personal, yang memfokuskan pada bagaimana pembelajar menggunakan informasi, sumber daya, dan bantuan untuk memecahkan masalah; kedua, konstruktivisme sosial, yang melihat belajar sebagai usaha untuk meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain; dan ketiga, konstruktivisme dialektis, yang merupakan gabungan antara konstruktivisme psikologis dan sosial.

Pembelajaran yang berbasis konstruktivis memiliki beberapa keunggulan, seperti sumber belajar tidak hanya berasal dari guru tetapi juga dari lingkungan tempat siswa berinteraksi, siswa menjadi lebih aktif dan kreatif, pembelajaran menjadi lebih bermakna karena didasarkan pada pengalaman langsung siswa, dan adanya kebebasan bagi siswa untuk mengaitkan pengalaman mereka dengan konsep pembelajaran yang ada untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan.

Baca Juga: Contoh Penerapan Teori Belajar Konstruktivisme dalam Pembelajaran di Kelas 

Penggunaan pendekatan teori konstruktivisme dalam penyusunan capaian pembelajaran ini penting agar guru dapat memanfaatkan keunggulannya secara maksimal dalam menerapkan kurikulum Merdeka.

Oleh karena itu, guru sebagai fasilitator pembelajaran harus menyegarkan dan memperdalam pemahaman mereka tentang teori tersebut. Hal ini akan membantu mereka dalam merancang dan mengimplementasikan pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan prinsip-prinsip konstruktivisme.

Mengapa Konteks dan Keterlibatan Siswa Penting dalam Pembelajaran

Konstruktivisme sebagai pendekatan pembelajaran menempatkan konteks dan keterlibatan siswa sebagai hal yang sangat penting. Guru tidak hanya diperintahkan untuk menyampaikan informasi kepada siswa, tetapi juga harus mempertimbangkan latar belakang dan kepentingan individual mereka. Mengapa hal ini sangat vital?

Pertama-tama, ketika guru memahami konteks siswa, mereka dapat merancang pengalaman pembelajaran yang lebih relevan. Sebagai contoh, jika sebagian besar siswa berasal dari latar belakang agraris, maka pengalaman pembelajaran yang mengintegrasikan konsep-konsep pertanian akan lebih bermakna bagi mereka daripada hanya menjelaskan teori tanpa relevansi langsung dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Selain itu, pemahaman terhadap konteks individu siswa memungkinkan guru untuk menciptakan situasi pembelajaran yang menarik bagi mereka. Misalnya, guru dapat mengaitkan materi pembelajaran dengan kegiatan atau topik yang menarik bagi siswa, seperti memanfaatkan cerita atau gambaran yang sesuai dengan minat mereka. Dengan demikian, motivasi siswa untuk belajar dapat ditingkatkan, karena mereka merasa terlibat secara pribadi dalam proses pembelajaran.

Keterlibatan siswa juga sangat penting dalam konteks pembelajaran konstruktivis. Ketika siswa merasa diperhatikan dan dihargai dalam proses pembelajaran, mereka cenderung lebih aktif dan responsif terhadap materi yang diajarkan. 

Guru dapat menciptakan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam diskusi, berkolaborasi dengan teman-teman mereka, atau bahkan menyelidiki topik secara mandiri. Hal ini tidak hanya memperkuat pemahaman siswa, tetapi juga membangun keterampilan sosial dan kognitif yang penting bagi perkembangan mereka.

Secara keseluruhan, pentingnya memperhatikan konteks dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran tidak bisa diremehkan. Ini merupakan fondasi yang kokoh dalam menerapkan pendekatan konstruktivis, yang pada akhirnya membawa manfaat yang besar bagi proses dan strategi pembelajaran yang efektif bagi siswa.

Mengoptimalkan Pembelajaran dengan Evaluasi Formatif

Evaluasi formatif dalam konteks pendekatan konstruktivis bukan hanya tentang memberikan nilai atau menilai kemampuan siswa, tetapi lebih dari itu, tentang membimbing proses belajar-mengajar secara aktif. 

Dengan memberikan umpan balik secara kontinu, guru membantu siswa untuk memahami kemajuan mereka dalam pembelajaran. Ini memungkinkan siswa untuk melihat titik-titik kekuatan mereka dan juga mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki.

Namun, evaluasi formatif tidak hanya tentang memahami kemajuan, tetapi juga tentang mengoreksi pemahaman secara aktif. Melalui umpan balik yang diberikan, siswa didorong untuk merefleksikan pemahaman mereka, mengeksplorasi konsep lebih dalam, dan mencari solusi atas ketidakpahaman yang mungkin mereka hadapi. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi lebih dinamis dan berkelanjutan.

Untuk mengimplementasikan evaluasi formatif dengan efektif, guru perlu memanfaatkan berbagai teknik. Pertanyaan terbuka adalah salah satu teknik yang efektif, memungkinkan siswa untuk mengekspresikan pemikiran mereka dengan bebas dan mengaktifkan proses berpikir kritis. 

Diskusi kelompok juga menjadi sarana yang berguna, memfasilitasi pertukaran ide antara siswa dan memperluas wawasan mereka melalui kolaborasi. Selain itu, proyek berbasis masalah memberikan konteks nyata bagi siswa untuk menerapkan pengetahuan mereka, sambil terus menerima umpan balik dari guru dan sesama siswa.

Baca Juga:

Dengan memadukan berbagai teknik evaluasi formatif ini, guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung pertumbuhan siswa secara holistik. Evaluasi formatif bukan hanya tentang memberikan nilai, tetapi lebih tentang memberdayakan siswa untuk mengambil peran aktif dalam pembelajaran mereka sendiri, memperkuat pemahaman mereka, dan mempersiapkan mereka untuk sukses di dunia yang terus berubah.

Muh. Akbar
Muh. Akbar "Live with an attitude of gratitude for the experiences that shape you, and learn with an insatiable hunger for understanding the world and your place in it."