Struktur Kurikulum Merdeka Belajar Jenjang SMP/MTs

Daftar Isi

Struktur Kurikulum Merdeka Belajar Jenjang SMPMTs

Nyero.ID -  Struktur Kurikulum Merdeka pada jenjang SMP/MTs telah dirancang dengan memperhatikan tiga poin utama: pertama, berbasis kompetensi; kedua, pembelajaran yang fleksibel; dan ketiga, pembentukan karakter Pancasila.

Implementasi kurikulum oleh satuan pendidikan harus mempertimbangkan pencapaian kompetensi peserta didik dalam kondisi khusus. 

Dalam menghadapi tantangan pemulihan pembelajaran pasca Covid-19, lembaga pendidikan mengembangkan kurikulum dengan pendekatan diversifikasi yang sesuai dengan kebutuhan khusus mereka.

Pendekatan ini memungkinkan penyesuaian kurikulum dengan karakteristik dan kebutuhan siswa di setiap tingkatan pendidikan, sehingga dapat lebih efektif dalam memfasilitasi pemulihan pembelajaran dan peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh.

Struktur Kurikulum Merdeka untuk jenjang SMP/MTs tersebut dijelaskan dalam Lampiran Keputusan Mendikbudristek Nomor 56 Tahun 2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran.

Penting bagi orang tua untuk memahami struktur Kurikulum Merdeka karena akan berdampak pada perkembangan pendidikan anak mereka. 

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah waktu belajar anak yang harus sesuai dengan tingkat pendidikan yang mereka tempuh. 

Rentang waktu yang tepat akan membantu mereka memanfaatkan waktu sekolah secara optimal.

Selain itu, pemilihan mata pelajaran juga penting dan harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku di setiap tingkat pendidikan. 

Sebelumnya, telah dibagikan informasi mengenai struktur Kurikulum Merdeka untuk jenjang PAUD dan SD/MI.

Untuk jenjang SMP, Struktur Kurikulum Merdeka Belajar dikelompokkan ke dalam fase D, baik untuk kelas VII, kelas VIII, dan kelas IX. Berikut muatan  struktur Kurikulum Merdeka Belajar jenjang SMP/Mts: 

1. Pembelajaran dalam Struktur Kurikulum SMP 

Struktur kurikulum SMP dibagi menjadi 2 (dua) kegiatan pembelajaran utama, yaitu:

a. Pembelajaran Reguler atau Rutin

Kegiatan ini merupakan bagian dari kurikulum yang disebut intrakurikuler. 

Pembelajaran reguler ini berfokus pada materi-materi dan kompetensi yang telah diatur dalam kurikulum secara umum. 

Ini mencakup pembelajaran dalam mata pelajaran seperti Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan lain sebagainya.

b. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Kegiatan ini merupakan bagian dari kurikulum yang dirancang untuk memperkuat karakter Pancasila siswa. 

Melalui projek ini, siswa akan terlibat dalam berbagai aktivitas yang dirancang untuk memperkuat pemahaman dan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. 

Projek ini dapat berupa kegiatan sosial, kegiatan lingkungan, diskusi kelompok tentang nilai-nilai Pancasila, atau kegiatan lain yang mendukung pembentukan karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

2. Jam Pelajaran (JP)

Jam Pelajaran (JP) dalam Kurikulum Merdeka diatur per tahun. 

Ini berarti bahwa satuan pendidikan memiliki keleluasaan dalam mengatur alokasi waktu pembelajaran secara fleksibel untuk mencapai jumlah Jam Pelajaran yang telah ditetapkan untuk setiap tahun pelajaran.

Dengan kata lain, meskipun ada jumlah JP yang harus dipenuhi dalam satu tahun pelajaran, cara pengaturan waktu pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing sekolah. 

Hal ini memungkinkan sekolah untuk mengadaptasi kurikulum sesuai dengan lingkungan dan kondisi lokal mereka, serta memberikan fleksibilitas bagi guru dalam merancang pengalaman belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.

3. Pendekatan Pembelajaran

Dalam Kurikulum Merdeka, pendekatan pembelajaran memiliki tiga opsi yang dapat dipilih oleh satuan pendidikan, yaitu:

a. Pendekatan Berbasis Mata Pelajaran

Pendekatan ini mengorganisasikan pembelajaran berdasarkan mata pelajaran tertentu. 

Setiap mata pelajaran diajarkan secara terpisah, dengan fokus pada materi dan kompetensi khusus yang terkait dengan subjek tersebut.

b. Pendekatan Tematik

Pendekatan ini mengintegrasikan berbagai mata pelajaran ke dalam satu tema tertentu. 

Pembelajaran tidak terbatas pada batas-batas mata pelajaran, melainkan diintegrasikan untuk menyajikan konsep yang lebih holistik dan terpadu. 

Ini memungkinkan siswa untuk melihat hubungan antara berbagai aspek pengetahuan dan meningkatkan pemahaman mereka tentang topik yang dipelajari.

c. Pendekatan Terintegrasi

Pendekatan ini menggabungkan elemen-elemen dari pendekatan berbasis mata pelajaran dan tematik.

Pembelajaran terorganisir secara lebih fleksibel, di mana materi dari berbagai mata pelajaran dapat dipadukan secara alami untuk mendukung pemahaman yang lebih dalam dan menyeluruh.

Dengan memiliki opsi pendekatan pembelajaran yang beragam, satuan pendidikan dapat memilih pendekatan yang paling sesuai dengan kebutuhan, konteks, dan karakteristik siswa mereka. 

Ini memberikan fleksibilitas dalam merancang pengalaman belajar yang bervariasi dan menarik bagi siswa.

4. Informasi Terkait Mata Pelajaran

Dalam Konteks Kurikulum Merdeka, terdapat informasi terkait mata pelajaran sebagai berikut:

a. Mata Pelajaran Informatika

Mata pelajaran Informatika merupakan mata pelajaran wajib yang harus diajarkan di semua satuan pendidikan. 

Ini menandakan pentingnya pemahaman dan keterampilan dalam teknologi informasi dan komunikasi dalam kurikulum pendidikan.

b. Mata Pelajaran Seni dan Prakarya

Satuan pendidikan atau murid memiliki kebebasan untuk memilih setidaknya satu dari lima mata pelajaran Seni dan Prakarya. 

Pilihan ini meliputi Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, Seni Tari, atau Prakarya. 

Dengan demikian, siswa dapat mengembangkan minat dan bakat mereka dalam bidang seni dan kreativitas sesuai dengan preferensi dan keinginan mereka.

5. Alokasi waktu 

Dalam Kurikulum Merdeka, alokasi waktu pembelajaran merupakan hal penting yang harus diperhatikan oleh satuan pendidikan. 

Alokasi waktu ini mencakup berapa lama waktu yang diberikan untuk setiap mata pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, serta kegiatan pembelajaran lainnya.

Alokasi waktu pembelajaran haruslah disesuaikan dengan kebutuhan siswa, tujuan pembelajaran, dan kurikulum yang telah ditetapkan. 

Satuan pendidikan memiliki fleksibilitas dalam mengatur alokasi waktu tersebut agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Selain itu, alokasi waktu juga dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kebijakan pemerintah, fasilitas yang tersedia di sekolah, dan kondisi lokal. Berikut alokasi waktu dalam kurikulum Merdeka jenjang SMP/MTs:

a. Alokasi waktu kelas 7–8 SMP/MTs (asumsi 1 tahun = 36 minggu dan 1 JP = 40 menit)

Alokasi waktu mata pelajaran SMPMTs kelas 7–8

Keterangan:

  • * Diikuti murid sesuai agama masing-masing. 
  • ** Satuan pendidikan menyediakan minimum 1 jenis seni atau prakarya (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, Seni Tari, dan/atau Prakarya). Murid memilih salah satu. 
  • *** Paling banyak 2 JP per minggu atau 72 JP per tahun. 
  • **** Total JP tidak termasuk mata pelajaran Muatan Lokal dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan.

b. Alokasi waktu kelas 9 SMP/MTs (asumsi 1 tahun = 32 minggu dan 1 JP = 40 menit)

Alokasi waktu mata pelajaran SMPMTs kelas 9

Keterangan:

  • * Diikuti murid sesuai agama masing-masing. 
  • ** Satuan pendidikan menyediakan minimum 1 jenis seni atau prakarya (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, Seni Tari, dan/atau Prakarya). Murid memilih salah satu. 
  • *** Paling banyak 2 JP per minggu atau 64 JP per tahun. 
  • **** Total JP tidak termasuk mata pelajaran Muatan Lokal dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan.

Penjelasan

a. Muatan pelajaran kepercayaan untuk penghayatan kepercayaan terhadap Tuhan YME dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai layanan pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan YME.

b. Satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif di SMP/MTs/sederajat menyediakan layanan program kebutuhan khusus sesuai kondisi peserta didik.

c. Beban belajar bagi penyelenggara pendidikan dengan Sistem Kredit Semester (SKS) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai SKS.

d. Proses mengidentifikasi dan menumbuhkembangkan minat, bakat, dan kemampuan murid dilakukan oleh guru yang dikoordinasikan oleh guru BK. Jika ketersediaan guru BK belum mencukupi, maka koordinasi dilakukan oleh guru lain.

6. Struktur Kurikulum Merdeka MTs Berdasarkan KMA No. 347 Tahun 2022

Struktur Kurikulum Merdeka untuk Madrasah Tsanawiyah (MTs) mengacu pada Keputusan Menteri Agama (KMA) No. 347 Tahun 2022 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka pada Madrasah.

Secara umum Struktur kurikulum Pembelajaran Intrakurikuler MTs dibagi menjadi 2 (dua) fase: D fase untuk kelas VII dan kelas VIII; dan E fase untuk kelas IX

Penjelasan mengenai struktur kurikulum MTs adalah sebagai berikut:

a. Perhitungan Waktu Pembelajaran

Waktu pembelajaran dihitung dalam satu tahun. Madrasah memiliki fleksibilitas untuk merencanakan penggunaan waktu yang tersedia, baik itu dalam rentang mingguan, dua mingguan, tiga mingguan, bulanan, atau bahkan dengan menata materi dalam blok tertentu. 

Penentuan ini disesuaikan dengan tujuan efektivitas pembelajaran setiap mata pelajaran atau kolaborasi antara beberapa mata pelajaran.

b. Asumsi Beban Belajar

Kelas VII-VIII dianggap memiliki durasi 1 tahun = 36 pekan dengan 1 Jam Pelajaran (JP) = 40 menit. Sedangkan kelas IX memiliki durasi 1 tahun = 32 pekan dengan 1 JP = 40 menit. 

Angka dalam kurung (2), (3), (5), atau lainnya digunakan untuk perhitungan perpekan, bukan sebagai satuan waktu yang harus dipenuhi dalam satu pekan. 

Madrasah memiliki kewenangan untuk menyesuaikan waktu pembelajaran berdasarkan kebutuhan siswa.

c. Mata Pelajaran Wajib:

Pendidikan Agama Islam terdiri dari 4 mata pelajaran dan diikuti oleh seluruh peserta didik madrasah.

d. Mata Pelajaran Seni dan Prakarya:

Satuan pendidikan menyediakan minimal 1 jenis seni atau prakarya, seperti Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, Seni Tari, atau Prakarya. Setiap peserta didik memilih satu jenis seni atau prakarya di madrasah.

e. Muatan Lokal:

Madrasah dapat mengembangkan muatan lokal sesuai dengan kekhasan madrasah dan kebutuhan daerah.

f. Penambahan dan Relokasi Jam Pelajaran:

Madrasah dapat menambah atau merelokasi jam pelajaran sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan waktu.

g. Model Pembelajaran:

Madrasah memiliki kebebasan untuk menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa, seperti pembelajaran konvensional, pembelajaran berbasis proyek, model blok, atau inovasi-inovasi pembelajaran lainnya yang dirancang oleh madrasah.

Dengan memahami struktur Kurikulum Merdeka ini, semua orang diharapkan dapat lebih terlibat dalam perkembangan pendidikan anak-anak pada jenjang SMP/MTs.

Muh. Akbar
Muh. Akbar "Live with an attitude of gratitude for the experiences that shape you, and learn with an insatiable hunger for understanding the world and your place in it."