Blogger Jateng

Penerapan Asas Trikon dalam Proses Pembelajaran Kurikulum Merdeka

Nyero.ID - Pendidikan bukanlah entitas yang diam atau statis; sebaliknya, ia adalah dinamika yang harus terus berubah mengikuti arus waktu dan tuntutan peserta didik. Membayangkan sistem pendidikan sebagai suatu entitas besar yang hanya dapat dikelola oleh para pakar dan penentu kebijakan di pusat adalah pemahaman yang terbatas. Sebaliknya, setiap sekolah dan kelas di dalamnya memiliki karakteristik dan tantangan unik, menuntut pendekatan yang berbeda-beda untuk pengembangannya.

Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia, memperkenalkan asas trikon sebagai panduan untuk mengembangkan sekolah dan proses pendidikan secara efektif. Asas trikon terdiri dari tiga prinsip utama, yaitu kontinyu, konvergen, dan konsentris.

1. Kontinyu

Asas kontinyu mengajarkan bahwa pendidikan harus dilihat sebagai perjalanan tanpa henti. Proses pembelajaran tidak boleh berhenti pada satu titik tertentu, melainkan harus terus berlanjut sepanjang hayat.

Pendekatan ini menekankan perlunya pengembangan yang berkesinambungan, dengan perencanaan yang matang. Pendidikan, sebagai upaya sadar, harus dinikmati sebagai proses sukarela, di mana murid menjadi pembelajar sepanjang hayat. Kemauan belajar dan motivasi internal harus distimulasi agar murid dapat mengatur kegiatan belajarnya sendiri.

Sejarah menunjukkan bahwa nilai dan cara hidup bangsa terus berubah seiring waktu. Asas kontinuitas menjadi refleksi dari realitas ini, mengakui perlunya adaptasi dan evolusi terus-menerus dalam pendidikan.

Pembelajaran yang dilakukan secara sukarela menjadi kunci, dengan tujuan membentuk murid yang menjadi pembelajar sepanjang hayat. Melalui asas kontinuitas, murid tidak hanya belajar untuk mencapai suatu titik, tetapi untuk terus berkelanjutan, menghadapi perubahan, dan mengembangkan potensi diri secara berkesinambungan.

2. Konvergen

Asas konvergen mengajarkan pentingnya menggabungkan kekuatan dari berbagai kebudayaan dan sistem pendidikan di seluruh dunia. Ki Hajar Dewantara mendorong untuk melihat pendidikan sebagai bagian dari kesatuan kebudayaan manusia secara global, tanpa mengorbankan nilai atau identitas lokal.

Meskipun kita mengadopsi ide dan metode pembelajaran dari negara lain, kita tetap diingatkan untuk mempertahankan dan menghormati karakter lokal kita. Konsep ini mendorong integrasi, membangun pemahaman yang lebih komprehensif melalui kerjasama dan interaksi antarbudaya.

Ki Hajar Dewantara menjadi teladan dengan mempelajari praktek pendidikan dunia, menggabungkan inspirasi dari luar negeri tanpa kehilangan esensi kebangsaan. Ini mencerminkan sikap bijak, bahwa meskipun menerima pengaruh dari berbagai sumber, kita tetap memprosesnya sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan.

Asas konvergen mengajarkan bahwa pendidikan harus mencapai satu tujuan bersama, yaitu membentuk manusia Indonesia yang Pancasilais. Di dalamnya terkandung aspirasi untuk menyatukan perbedaan dalam masyarakat, menciptakan persatuan, dan kesatuan sebagai fondasi bangsa.

3. Konsentris

Asas konsentris menuntut sikap terbuka namun tetap kritis dan selektif terhadap pengaruh kebudayaan di sekitar. Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa pembelajaran harus relevan dengan karakter dan nilai-nilai kebudayaan sendiri. Meskipun kita diajak untuk mempelajari kemajuan dari bangsa lain, hal itu harus tetap ditempatkan secara konsentris dengan karakter budaya kita sebagai pusatnya. Artinya, pembelajaran harus dapat merelevansikan dari apa yang telah terjadi dalam proses belajar dan mempertahankan jati diri bangsa.

Ki Hajar Dewantara mendorong kita untuk mempelajari kemajuan bangsa lain, tetapi selalu meletakkannya secara konsentris dengan karakter budaya kita sebagai pusatnya. Pendidikan harus mampu merelevansikan pembelajaran dari berbagai pengaruh, mengolahnya agar tetap sesuai dengan nilai-nilai budaya yang telah kita anut.

Melalui asas konsentris, kita diingatkan untuk tidak hanya sekadar mengadopsi, tetapi juga untuk menjaga integritas budaya. Hal ini menciptakan suatu keselarasan antara pembelajaran dan nilai-nilai lokal, menghasilkan generasi yang mampu memanfaatkan pengaruh luar dengan bijaksana tanpa kehilangan akar budayanya.

Penerapan Asas Trikon dalam Kurikulum Merdeka

Manfaat Penerapan Asas Trikon Ki Hajar Dewantara

Asas trikon memberikan landasan bagi transformasi pendidikan Indonesia menuju keberlanjutan, integrasi ilmu, dan identitas budaya. Dengan menerapkan prinsip ini, pendidikan diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih holistik dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan global. Ki Hajar Dewantara telah memberikan sumbangan berharga, dan asas trikon menjadi panduan untuk mencapai tujuan tersebut.

Menerapkan asas trikon dalam pengembangan sekolah dan ruang kelas tidak hanya merubah metode pembelajaran, tetapi juga merubah pandangan terhadap pendidikan. Kontinyu mendorong perencanaan yang terukur, konvergen membuka pintu bagi penggabungan kekuatan global dan lokal, dan konsentris mengingatkan bahwa pembelajaran harus selalu relevan dengan karakter budaya lokal.

Dengan menerapkan asas trikon, pendidikan dapat menjadi dinamis, terus berkembang mengikuti perkembangan zaman, serta tetap akar pada nilai-nilai budaya lokal. Melalui pendekatan ini, setiap sekolah dan kelas dapat menjadi laboratorium pendidikan yang unik, merespons tuntutan zaman dan kebutuhan peserta didik dengan cermat. Sehingga, asas trikon menjadi panduan yang kuat untuk menciptakan pendidikan yang adaptif dan berdaya saing di era yang terus berubah ini.

Penerapan Asas Trikon dalam Pendidikan di Indonesia

Pendidikan merupakan ranah yang dinamis, memerlukan adaptasi kontinu terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan murid. Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, penerapan asas trikon—kontinyu, konvergen, dan konsentris—muncul sebagai solusi efektif untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada murid.

1. Kurikulum

Penerapan asas trikon di dalam kurikulum bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang bersifat berkesinambungan, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga tinggi. Kurikulum harus mengarah pada tujuan pendidikan nasional, membentuk manusia Indonesia yang mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, setiap tahapan pembelajaran membangun fondasi yang kokoh untuk perkembangan peserta didik.

2. Pembelajaran

Asas kontinyu dan konsentris tercermin dalam pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Guru harus memahami kebutuhan dan minat peserta didik, menjadikan pembelajaran efektif dan efisien. Konsistensi dalam manajemen kelas memberikan ruang kepada murid untuk mengeksplorasi gagasan, ide, dan kreativitasnya. Penggunaan metode pembelajaran seperti STEAM menunjukkan konvergensi, menggabungkan unsur-unsur ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam pembelajaran.

Proses pembelajaran seperti apa yang ingin anda perbaiki dengan menggunakan asas trikon?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, telah kami bahas dengan lebih rinci pada pembahasan penerapan asas trikon di dalam kelas, juga kami lengkapi dengan implementasi asas trikon di dalam kurikulum Merdeka.

3. Penilaian

Penerapan asas trikon dalam penilaian membawa konsep holistik, menilai aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik murid. Penilaian yang berkesinambungan memberikan gambaran yang utuh tentang perkembangan murid. Dengan demikian, evaluasi tidak hanya terfokus pada prestasi akademis semata, melainkan juga pada aspek-aspek lain yang membentuk karakter murid.

Contoh Penerapan Asas Trikon di dalam Kelas

Dalam ranah pendidikan, asas trikon—kontinyu, konvergen, dan konsentris—bukan sekadar konsep teoritis, tetapi sebuah pandangan hidup yang mencerminkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Bagaimana asas trikon diaplikasikan dalam dunia pendidikan dan contohnya di dalam kelas? Mari kita telaah bersama untuk memahami esensi dan tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara.

Pendidikan, sebagai suatu proses yang dinamis, tidak dapat dipahami sebagai entitas besar yang hanya dikelola oleh para pakar dan penentu kebijakan di pusat. Sebaliknya, setiap sekolah dan bahkan kelas di dalamnya merupakan sistem pendidikan dengan karakteristik dan permasalahan unik. Pendekatan ini sesuai dengan karakteristik lingkungan dan potensi lokal yang beragam di Indonesia.

1. Contoh Penerapan Asas Kontinyu

Pendekatan kontinyu dalam pendidikan membutuhkan pengembangan berkesinambungan, diawali dengan perencanaan yang baik. Memahami bahwa budaya dan kebudayaan bersifat kontinyu seiring waktu, pendidikan juga harus bersifat tak terputus. Proses belajar yang sukarela dan diarahkan pada kemauan dan rasa ingin tahu murid adalah kunci dalam asas kontinyu.

Contoh penerapan dapat ditemukan dalam pembelajaran lingkungan hidup. Guru dapat mengajak murid ke halaman dan sekitar sekolah untuk mengamati lingkungan mereka. Melalui pertanyaan pemantik diskusi, seperti bagaimana lingkungan mempengaruhi hidup mereka, guru mendorong murid untuk berdialog, mengeksplorasi gagasan, dan mengungkapkan pengalaman mereka.

2. Contoh Penarapan Asas Konvergen  

Asas konvergen mengajarkan kita untuk bersama bangsa lain mengusahakan karakter dunia sebagai kesatuan kebudayaan umat manusia. Ki Hadjar Dewantara menekankan pentingnya menerima pengaruh dari luar, seperti praktik pendidikan di negara lain, namun dengan tetap mempertahankan identitas bangsa.

Sebagai contoh, sistem pembelajaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Math) bisa diadopsi, namun dengan penyesuaian terhadap kebudayaan lokal. Penerapan teknologi dalam konteks lokal, seperti teknologi fermentasi tempe atau pewarnaan batik, menggambarkan konsep konvergen dengan menciptakan pengalaman belajar yang relevan bagi murid.

3. Contoh Penerapa Asas Konsentris

Asas konsentris menunjukkan bahwa kita harus bersikap terbuka, tetapi kritis dan selektif terhadap pengaruh kebudayaan di sekitar. Meskipun Ki Hadjar Dewantara mendorong kita untuk mempelajari kemajuan bangsa lain, nilai-nilai kebudayaan kita harus tetap menjadi pusatnya.

Guru memiliki peran penting dalam memfasilitasi murid menentukan tujuan pembelajaran, memantau proses belajar, dan membimbing refleksi pengalaman belajar. Proses ini membantu murid memahami hubungan antara diri mereka, lingkungan, peran, tugas, serta kontribusi mereka dalam menjaga lingkungan.

Implementasi Asas Trikon dalam Kurikulum Merdeka

Dalam konteks Kurikulum Merdeka Belajar, prinsip "Trikon" menjadi sangat relevan dan memainkan peran kunci. Fokus Kurikulum Merdeka adalah pada materi yang esensial dan fleksibel, disesuaikan dengan minat, bakat, dan kebutuhan unik setiap siswa. Ini sejalan dengan prinsip "Trikon" yang diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantara. Sistem Merdeka Belajar memberikan otoritas dan fleksibilitas pada pengelolaan pendidikan di tingkat sekolah.

Sebagai contoh, guru diberi kebebasan untuk merancang proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan sekolah masing-masing. Selain itu, kegiatan pembelajaran harus mencakup semua capaian kompetensi (CP), mencerminkan asas konsentris dalam "Trikon," di mana pengembangan pendidikan tetap berdasarkan pada kepribadian guru dan siswa.

Kontinyu, yang terwujud dalam rencana pembelajaran atau modul ajar, menekankan pelaksanaan pembelajaran yang berlangsung terus-menerus. Guru, sebagai pendamping murid, berperan dalam menetapkan tujuan pembelajaran dan memahami cara belajar yang sesuai dengan minat siswa. Proses pembelajaran ini membawa murid untuk belajar mandiri melalui refleksi pengalaman belajar mereka.

Prinsip konvergen menekankan pentingnya guru sebagai pelaksana kebijakan pendidikan untuk terus belajar dari berbagai sumber dan mengintegrasikan teori-teori belajar yang sesuai dengan kondisi Indonesia. Seimbang dalam menyikapi perubahan, prinsip konvergen mencerminkan sikap tawasuth dalam Islam, yaitu menerima budaya asing dengan menyesuaikan kebudayaan Indonesia.

Konsentris, sebagai gambaran wilayah yang terdiri dari individu-individu, menekankan pada pengembangan yang terfokus pada individu. Dalam pembelajaran, guru perlu menerapkan konsep pembelajaran berdiferensiasi dengan memahami karakteristik masing-masing murid. Hal ini melibatkan penggunaan berbagai gaya belajar yang sesuai dengan minat murid, sesuai dengan tujuan pembelajaran untuk mendampingi tumbuh kembang murid sesuai dengan karakter budaya mereka.

Prinsip-prinsip Trikon dapat diimplementasikan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, termasuk manajemen kelas. Sebagai contoh, implementasi asas kontinyu dalam perencanaan pembelajaran memberikan murid kebebasan untuk belajar dan mengembangkan potensi mereka. Manajemen kelas yang konsisten memungkinkan murid untuk mengeksplorasi gagasan dan kreativitas mereka, mendorong terbentuknya individu yang merdeka.

Pembelajaran STEAM diakui sebagai metode yang mengintegrasikan teknologi dan ilmu pengetahuan. Penting untuk memahami bahwa konsep STEAM mencakup teknologi lokal yang mempertahankan nilai-nilai tradisional. Guru perlu memahami konsep ini agar dapat menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi lokal, sambil tetap menjaga keaslian budaya bangsa.

Organisasi Profesi guru, KKG, MGMP, memainkan peran penting sebagai wadah pengembangan profesionalisme guru. Guru perlu terus mengembangkan metode pembelajaran, menerima metode baru, dan menjaga kekonsistenan agar budaya bangsa tetap terjaga.

Baca Juga: 

Penerapan prinsip Trikon merupakan langkah nyata dalam menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar. Diperlukan kolaborasi dari semua pemangku kepentingan pendidikan, termasuk guru, siswa, orang tua, pemerintah, dan pemangku kepentingan terkait lainnya, untuk mencapai tujuan utama pendidikan: membimbing pertumbuhan optimal anak-anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai individu dan warga masyarakat.

Muh. Akbar
Muh. Akbar "Live with an attitude of gratitude for the experiences that shape you, and learn with an insatiable hunger for understanding the world and your place in it."