Blogger Jateng

Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Di dalam Kelas!

Nyero.ID - Dalam era globalisasi ini, tantangan dalam dunia pendidikan semakin kompleks. Pengajaran yang efektif tidak hanya memerlukan pemahaman mendalam terhadap materi pelajaran, tetapi juga memerlukan pengembangan keterampilan kolaboratif dan pemecahan masalah.

Salah satu model pembelajaran yang telah muncul sebagai solusi inovatif untuk menanggapi kebutuhan ini adalah model pembelajaran Jigsaw. Dikembangkan oleh ahli psikologi sosial, Elliot Aronson, pada tahun 1971, model ini menawarkan pendekatan yang unik untuk merangsang interaksi sosial dan pemahaman kolektif di antara peserta didik.

Konsep dasar dari model pembelajaran Jigsaw adalah memecah materi pembelajaran menjadi bagian-bagian yang dapat dipelajari oleh kelompok kecil siswa. Setiap kelompok akan bertanggung jawab atas salah satu bagian tersebut, dan kemudian setiap anggota kelompok akan berbagi pengetahuan mereka dengan anggota kelompok lainnya.

Dengan demikian, setiap siswa menjadi ahli dalam bagian tertentu dan bertanggung jawab untuk mengajarkan informasi tersebut kepada anggota kelompok lainnya. Pendekatan ini tidak hanya mengembangkan pemahaman konsep, tetapi juga mendorong kerjasama dan rasa tanggung jawab.

Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Di dalam Kelas!

Keunggulan utama dari model pembelajaran Jigsaw adalah menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Dengan mendorong siswa untuk saling bergantung satu sama lain, model ini mengurangi ketegangan kompetitif di antara siswa dan meningkatkan rasa percaya diri mereka. Selain itu, model ini mempromosikan toleransi dan menghargai keberagaman, karena setiap anggota kelompok memiliki peran penting dalam keseluruhan pemahaman materi.

Apa Itu Model Pembelajaran Jigsaw?

Dari sudut etimologi, istilah "Jigsaw" merujuk pada gergaji ukir dalam bahasa Inggris, sementara beberapa menyebutnya sebagai "Fuzzle," yang mengacu pada teka-teki menyusun potongan gambar. Model pembelajaran kooperatif Jigsaw mengadopsi prinsip kerja gergaji, di mana siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan belajar bersama.

Model Jigsaw adalah suatu pendekatan / model pembelajaran kooperatif yang menekankan kerja kelompok siswa dalam unit kecil. Seperti yang dijelaskan oleh Lie (1993: 73), model ini melibatkan kelompok kecil, biasanya terdiri dari empat hingga enam siswa dengan beragam latar belakang. Siswa bekerja sama dalam suasana heterogen, membentuk ketergantungan positif, dan bertanggung jawab secara mandiri.

Model Jigsaw pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi pendidikan, Elliot Aronson, pada tahun 1971. Berawal dari keinginannya untuk mengurangi konflik sosial di antara siswa di kelas, Aronson merancang model ini dengan harapan dapat membangun toleransi dan kerja sama. Sejak itu, model Jigsaw telah melewati berbagai perubahan dan penyesuaian, memperkaya diri dengan konsep-konsep pendidikan terkini dan menjadi salah satu model pembelajaran paling diakui di dunia.

Dalam konteks pembelajaran Jigsaw, siswa diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat mereka, mengelola informasi yang diperoleh, dan mengasah keterampilan berkomunikasi. Setiap anggota kelompok memiliki peran penting dalam mencapai kesuksesan kelompok dan memastikan pemahaman materi yang dipelajari. Pendekatan pembelajaran ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk aktif berpartisipasi dan mengembangkan tanggung jawab terhadap pembelajaran kelompoknya.

Model Jigsaw memberikan nilai tambah dengan memungkinkan siswa berkontribusi secara signifikan dalam proses pembelajaran. Keuntungan melibatkan siswa dalam kelompok kecil dan menciptakan suasana positif yang memungkinkan pertukaran ide dan pengalaman.

Dengan demikian, model ini bukan hanya tentang mencapai tujuan pembelajaran, tetapi juga membangun keterampilan sosial dan interpersonal yang esensial untuk kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini, seperti diungkapkan oleh Rusman (2008: 203), membawa konsep tanggung jawab individual dalam konteks tanggung jawab kelompok, di mana setiap siswa memiliki peran dalam keberhasilan kelompok dan pencapaian tujuan pembelajaran.

Ciri-Ciri Model Pembelajaran Jigsaw Yang Menyenangkan  

Model pembelajaran kooperatif jigsaw telah mengalami pengembangan intensif melalui berbagai penelitian dengan tujuan meningkatkan kerjasama akademik antar siswa, membentuk hubungan sosial yang positif, mengembangkan rasa percaya diri, dan meningkatkan kemampuan akademik melalui aktivitas kelompok (Kusuma, 2018). Fokus utama dari model jigsaw ini adalah memperkuat interaksi siswa dalam berdiskusi, menyelesaikan tugas, bertukar pendapat, dan memecahkan masalah bersama, sehingga dapat melatih rasa percaya diri dan memotivasi siswa.

Johnson dan Johnson (1984) mengidentifikasi beberapa ciri khas dari metode jigsaw, yang menjadi pijakan dalam pengembangan model pembelajaran ini. Pertama, adanya saling ketergantungan yang positif antara anggota kelompok, memastikan bahwa setiap siswa memiliki peran penting dalam kelompoknya. Kedua, metode ini memungkinkan pertanggungjawaban secara individu, menekankan pada tanggung jawab masing-masing siswa terhadap kontribusinya dalam kelompok.

Ciri berikutnya adalah heterogenitas kelompok, yang memastikan keberagaman kemampuan siswa dalam satu kelompok, sehingga setiap siswa dapat saling melengkapi. Selain itu, model ini menekankan pada konsep berbagi tanggung jawab, di mana setiap anggota kelompok memiliki peran yang setara dalam menyelesaikan tugas bersama. Keseluruhan, jigsaw menekankan pada keseimbangan antara fokus pada tugas dan kebersamaan, sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan.

Armanto, S., Armanto, D., & Harahap, M. B. (2014) menambahkan karakteristik tambahan untuk penerapan metode jigsaw. Pertama, siswa bekerja secara kooperatif dalam kelompok untuk menuntaskan materi belajarnya, menciptakan suasana pembelajaran yang aktif dan interaktif. Kedua, kelompok terbentuk dari siswa dengan kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, memastikan adanya diversitas dalam pemecahan masalah.

Selanjutnya, jika memungkinkan, anggota kelompok berasal dari latar belakang ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang berbeda, menciptakan pengalaman belajar yang inklusif. Terakhir, penghargaan lebih diorientasikan kepada kelompok ketimbang individu, mendorong kerja sama tim dan saling mendukung dalam mencapai tujuan bersama. Dengan menggabungkan ciri-ciri ini, model jigsaw tidak hanya menciptakan pembelajaran efektif tetapi juga menciptakan lingkungan yang memotivasi dan menyenangkan bagi siswa.

Sintaks Penerapan Metode Jigsaw Dalam Pembelajaran

Metode Jigsaw, sebagai pendekatan pembelajaran kooperatif, memiliki sintaks yang terstruktur untuk memastikan kelancaran dan efektivitas proses pembelajaran. Berikut adalah beberapa langkah integral dalam penerapan metode Jigsaw:

1. Menyampaikan Tujuan Pembelajaran

Pertama-tama, langkah awal dalam penerapan metode jigsaw adalah menyampaikan tujuan pembelajaran dengan jelas. Materi pembelajaran yang akan dipelajari bersama-sama harus ditentukan secara teliti. 

Misalnya, dalam pelajaran matematika, konsep-konsep geometri dan aljabar dapat diajarkan dengan cara yang menyenangkan. Penyusunan tujuan pembelajaran ini menjadi krusial untuk memberikan siswa arah yang jelas dan pemahaman yang maksimal terhadap materi yang akan dipelajari.

2. Sajian Informasi Interaktif

Langkah selanjutnya adalah menyajikan informasi tentang jalannya pembelajaran kepada peserta didik. Pesan yang perlu disampaikan adalah bahwa setiap siswa memiliki tanggung jawab untuk memahami materi secara mendalam agar dapat menjelaskan kepada rekan satu kelompoknya. Dengan demikian, interaktifitas dalam proses pembelajaran dapat ditingkatkan.

3. Pembagian Kelompok dengan Tugas Spesifik

Setelah itu, siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari 4—5 anggota, disesuaikan dengan jumlah peserta didik. Setiap anggota kelompok diberikan tanggung jawab untuk memahami sebagian materi ajar. 

Sebagai contoh, dalam pembelajaran sejarah mengenai perang dunia kedua, setiap kelompok bertanggung jawab menjelaskan bagian-bagian peristiwa penting. Pemahaman kemudian disampaikan secara berurutan oleh anggota kelompok, meningkatkan pemahaman komprehensif terhadap peristiwa-peristiwa tersebut.

4. Organisasi Diskusi Secara Terkendali

Dalam mengorganisasikan jalannya diskusi kelompok, perlu diingat bahwa pembelajaran berkelompok dapat menghadirkan tantangan dalam menjaga kondusivitas suasana kelas. Bapak/Ibu guru perlu mengambil langkah-langkah kontrol, seperti memberikan reward dan punishment, untuk menjaga motivasi siswa dan keharmonisan lingkungan pembelajaran.

5. Evaluasi dan Umpan Balik

Sintaks terakhir adalah evaluasi hasil pembelajaran dan memberikan umpan balik kepada siswa. Guru memiliki peran penting dalam memberikan penilaian konstruktif terhadap pemahaman siswa. Saran-saran yang diberikan dapat digunakan untuk pengembangan lebih lanjut, dan argumen tambahan dapat diperkenalkan untuk memperdalam pemahaman. 

Dengan memahami dan mengikuti sintaks penerapan metode Jigsaw ini, guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang terstruktur, dinamis, dan efektif. Langkah-langkah tersebut tidak hanya memfasilitasi transfer pengetahuan, tetapi juga memupuk kerjasama dan tanggung jawab siswa, menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih mendalam dan bermakna.

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Jigsaw

Pembelajaran merupakan fondasi bagi pengembangan individu dalam masyarakat. Dalam upaya untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih berdampak, berbagai model pembelajaran telah dikembangkan. Salah satu model yang menarik perhatian adalah model pembelajaran Jigsaw.

Dengan keunikan struktur dan pendekatannya yang berfokus pada kolaborasi, model ini menjanjikan sejumlah kelebihan namun juga memunculkan pertimbangan tertentu. Mari kita telaah bersama kelebihan dan kekurangan yang melekat pada model pembelajaran Jigsaw.

Kelebihan Model Pembelajaran Jigsaw

Kolaborasi yang Intensif: Model Jigsaw mendorong siswa untuk bekerja sama dalam memahami materi. Dengan saling bergantung pada informasi yang dimiliki masing-masing, siswa belajar untuk berkolaborasi, menghargai peran setiap individu, dan membangun rasa tanggung jawab terhadap kelompok.

Pengembangan Keterampilan Sosial: Pembelajaran Jigsaw tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga mengasah keterampilan sosial. Siswa belajar berkomunikasi, memecahkan konflik, dan membangun hubungan interpersonal yang sehat.

Peningkatan Pemahaman Materi: Dengan mewajibkan siswa untuk mengajar sesama tentang bagian tertentu dari materi, model ini memperkuat pemahaman konsep. Proses mengajar sesama mengharuskan siswa untuk menyusun informasi secara mendalam, memastikan pemahaman yang kuat.

Pembentukan Lingkungan Belajar Inklusif: Model Jigsaw mendukung pembentukan lingkungan belajar yang inklusif. Setiap siswa memiliki peran yang sama pentingnya, dan keberhasilan kelompok bergantung pada partisipasi aktif semua anggota.

Kekurangan Model Pembelajaran Jigsaw

Waktu yang Diperlukan: Implementasi model Jigsaw memerlukan waktu yang cukup. Proses pembelajaran yang melibatkan diskusi kelompok dan penyusunan informasi memerlukan perencanaan yang matang, dan hal ini bisa menjadi tantangan bagi guru yang memiliki kurikulum padat.

Keterbatasan pada Topik Kompleks: Model ini mungkin tidak sepenuhnya efektif untuk topik yang sangat kompleks atau memerlukan pendekatan pembelajaran yang lebih mendalam. Beberapa konsep membutuhkan pemaparan yang lebih terarah atau penjelasan rinci yang mungkin sulit dicapai dengan model Jigsaw.

Ketidaksetaraan Partisipasi: Ada kemungkinan bahwa beberapa siswa mungkin lebih aktif daripada yang lain dalam kelompok, yang dapat mengakibatkan ketidaksetaraan partisipasi. Ini dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran dan pemahaman keseluruhan kelompok.

Kemungkinan Kesalahan Informasi: Proses menyusun informasi oleh siswa dapat menyebabkan adanya kesalahan interpretasi atau pemahaman yang tidak akurat. Hal ini perlu diwaspadai agar kesalahan tidak menjadi sumber konsep yang salah.

Baca Juga: 

Dengan memahami kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Jigsaw, pendidik dapat mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menerapkannya sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik kelas mereka. Bagaimanapun, setiap model pembelajaran memiliki keunikan dan peranannya masing-masing dalam membentuk pembelajaran yang efektif dan berkelanjutan.

Muh. Akbar
Muh. Akbar "Live with an attitude of gratitude for the experiences that shape you, and learn with an insatiable hunger for understanding the world and your place in it."