Pembelajaran Abad 21: Pengertian, Ciri, Prinsip, & Model Penerapannya!

Daftar Isi

Nyero.ID - Dalam era globalisasi yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi yang pesat, perubahan dalam masyarakat global terjadi dengan cepat. Sebagai anggota masyarakat global, kita dihadapkan pada tanggung jawab untuk aktif berkontribusi dalam menghadapi dinamika perubahan ini. 

Sejumlah tantangan muncul seiring dengan arus perubahan tersebut, dan sebagai pembelajar dalam masyarakat global, kita perlu dilengkapi dengan keterampilan dan kemampuan untuk mengatasi tantangan tersebut.

Salah satu sektor yang sangat terdampak oleh perubahan global adalah bidang pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan menjadikannya berkualifikasi global, perubahan dalam desain pendidikan menjadi suatu keharusan. 

Sebagai masyarakat pembelajar di Indonesia, keterlibatan aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan menjadi kunci agar tidak tertinggal dalam perkembangan ini. Konsep yang tengah berkembang dengan pesat dalam pembelajaran saat ini adalah pembelajaran abad 21. 

Masyarakat global mengakui pentingnya memiliki keterampilan khusus, yang sering disebut sebagai "keterampilan abad 21," untuk beradaptasi dan berkembang dalam konteks pembelajaran ini.

Duffy dan Roehler mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu upaya yang sengaja melibatkan pengetahuan profesional guru untuk mencapai tujuan kurikulum. Pendapat ini diperkuat oleh Gagne dan Briggs, yang menjelaskan bahwa pembelajaran adalah suatu sistem yang didesain untuk membantu proses belajar peserta didik. 

Menurut Djamarah dan Syaiful Bahri, proses belajar melibatkan aktivitas fisik dan mental untuk menghasilkan perubahan tingkah laku dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya.

Dalam konteks ini, seorang pendidik harus mampu memberikan stimulus yang mendukung proses belajar secara maksimal. Pendidikan modern menuntut peserta didik untuk memiliki pemahaman dan keterampilan kompleks, termasuk keterampilan berpikir tingkat tinggi, digital, teknologi, informasi, dan inovatif. Pembelajaran abad 21, dicanangkan oleh Partnership for 21st Century Learning, menjadi landasan bagi proses pembelajaran masa kini.

Pembelajaran Abad 21 Pengertian, Ciri, Prinsip, & Model Penerapannya

Framework Pembelajaran Abad 21 memberikan gambaran holistik mengenai pengetahuan, keterampilan khusus, keahlian, dan literasi yang diperlukan peserta didik sebagai masyarakat pembelajar. Keterampilan tersebut meliputi:

  • Pembelajaran dan Keterampilan Inovatif: Termasuk kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis, inovasi, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.
  • Keterampilan Hidup dan Karir: Melibatkan fleksibilitas, integritas, produktivitas, inisiatif, kepemimpinan, dan tanggung jawab.
  • Keterampilan Informasi, Media, dan Teknologi: Menekankan pada pemahaman dan penguasaan terhadap informasi, media, dan teknologi yang terus berkembang.

Pentingnya pembelajaran abad 21 menciptakan landasan yang kuat untuk memastikan bahwa peserta didik mampu beradaptasi dan berkembang dalam dunia yang terus berubah. Dengan fokus pada keterampilan-keterampilan tersebut, pendidikan dapat memainkan peran kunci dalam membentuk individu yang siap menghadapi tantangan global masa depan.

Pengertian Pembelajaran Abad 21

Dalam era revolusi teknologi dan globalisasi, pendidikan tidak lagi hanya sebatas mentransfer informasi, tetapi melibatkan proses belajar yang lebih holistik dan adaptif. 

Ahli-ahli terkemuka di bidang pendidikan menawarkan wawasan baru mengenai pembelajaran abad 21, menyoroti kebutuhan akan inovasi dan pendekatan yang lebih inklusif.

1. Sir Ken Robinson

Sir Ken Robinson menggugah kesadaran akan pentingnya kreativitas dalam konteks pendidikan. Beliau menegaskan bahwa sistem pendidikan tradisional sering mengabaikan kecerdasan dan potensi kreatif siswa.

Dalam pandangannya, pembelajaran abad 21 seharusnya menekankan pengembangan kreativitas sebagai landasan utama, memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan ide-ide baru.

2. Howard Gardner

Teori kecerdasan majemuk oleh Howard Gardner menggiring kita untuk menghargai beragam kecerdasan yang dimiliki setiap individu. Pembelajaran abad 21 seharusnya mendorong pengembangan kecerdasan linguistik, logis-matematis, visual-ruang, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Dengan begitu, setiap siswa dapat berkembang sesuai dengan kekuatan yang unik.

3. Tony Wagner

Tony Wagner menyoroti perlunya fokus pada keterampilan kritis yang relevan dengan kehidupan nyata. Kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi efektif, dan pemecahan masalah kompleks menjadi kunci keberhasilan di abad 21. Pembelajaran seharusnya menekankan pengembangan keterampilan ini melalui pendekatan praktis dan situasional.

4. Yong Zhao

Yong Zhao mengajukan ide bahwa pembelajaran seharusnya mencerminkan dan memanfaatkan kekayaan budaya lokal siswa. Menyertakan unsur lokal dalam kurikulum dapat meningkatkan relevansi dan daya tarik pembelajaran. Pembelajaran abad 21 seharusnya menghormati keberagaman dan memanfaatkan kekuatan unik setiap komunitas.

5. Pasi Sahlberg

Pasi Sahlberg menggagas pendekatan berbasis kesejahteraan dalam pendidikan. Pembelajaran abad 21 tidak hanya seharusnya mencakup aspek akademis, tetapi juga fokus pada kesejahteraan fisik dan mental siswa. Lingkungan belajar yang mendukung kesejahteraan dapat menciptakan siswa yang lebih termotivasi dan berprestasi.

Dalam merangkum pemikiran para ahli ini, kita dapat memahami bahwa pembelajaran abad 21 bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan upaya untuk membentuk individu yang kreatif, beragam, kritis, dan sejahtera. Memahami dan menerapkan pandangan ini dapat membawa perubahan positif dalam dunia pendidikan, membimbing generasi muda menuju masa depan yang penuh dengan tantangan dan peluang.

Ciri - Ciri Pembelajaran Abad 21

Abad ke-21 menandai era informasi, komputasi, otomatisasi, dan komunikasi yang memengaruhi perubahan mendasar dalam paradigma pembelajaran. Pendidik dihadapkan pada tugas menyesuaikan gaya pembelajaran dengan karakteristik abad ke-21, menjauh dari pendekatan abad ke-20. 

Perubahan ini tidak hanya memengaruhi proses pembelajaran di kelas, tetapi juga membawa dampak jangka panjang bagi peserta didik ketika mereka melangkah ke dunia nyata. Langkah-langkah yang perlu diambil oleh guru dalam mengimplementasikan paradigma pembelajaran abad ke-21 adalah:

1. Fokus pada Pencarian Informasi

Guru harus memandu peserta didik untuk aktif mencari informasi daripada hanya menerima penjelasan. Mengingat semua materi pelajaran dapat diakses melalui internet, guru perlu mengubah perannya menjadi fasilitator pembelajaran. Contoh sederhana adalah mengajarkan konsep Pythagoras, di mana peserta didik diarahkan untuk mencari informasi sendiri dan kemudian berdiskusi tentang pemahaman mereka.

2. Pengembangan Merumuskan Masalah

Pembelajaran harus mengarah pada pengembangan kemampuan siswa merumuskan masalah, bukan hanya menyelesaikan atau menjawab masalah. Hal ini penting mengingat ketidakpastian yang mungkin dihadapi generasi mendatang. 

Siswa perlu dilatih untuk menghadapi ketidakpastian dengan keterampilan analisis yang mendalam, tidak hanya menerima informasi tanpa pertimbangan.

3. Berpikir Kritis dan Kreatif

Guru harus membimbing siswa dalam berpikir kritis, bukan mekanis. Pola berpikir mekanis sudah tidak sesuai dengan tuntutan abad ke-21. Siswa perlu mampu menganalisis informasi, mengolahnya, dan menemukan solusi kreatif dalam menghadapi masalah, bukan menghindari atau mencari solusi instan tanpa mempertimbangkan dampaknya.

4. Pengembangan Kemampuan Berkomunikasi

Pembelajaran harus memfokuskan pada pengembangan kemampuan berkomunikasi dan kolaborasi dalam konteks permasalahan aktual. Pendidik perlu menyadarkan siswa bahwa komunikasi verbal tetap penting, meskipun teknologi komunikasi digital marak. 

Siswa perlu diajarkan cara berkomunikasi secara efektif secara verbal, mengingat pentingnya kemampuan ini di dunia nyata, terutama dalam bisnis dan kolaborasi digital.

Dengan semua tantangan ini, pendidik perlu memiliki kreativitas luar biasa untuk mengubah pola pikir calon pemimpin masa depan. Hanya dengan menerapkan proses pembelajaran abad ke-21, guru dapat mempersiapkan generasi mendatang untuk menghadapi ketidakpastian dengan keberanian, analisis yang mendalam, dan keterampilan berkomunikasi yang handal.

Prinsip-Prinsip Pokok Pembelajaran Abad 21

Pendidikan abad ke-21 menghadirkan tantangan baru yang memerlukan transformasi dalam pendekatan pembelajaran. Jennifer Nichols menggagas empat prinsip pokok yang dapat membimbing perubahan ini, yang akan kita jelaskan dan kembangkan sebagai berikut:

1. Pembelajaran Berpusat pada Siswa

Pendekatan pembelajaran harus berfokus pada siswa, yang menjadi subjek aktif dalam mengembangkan minat dan potensi mereka. Guru tidak lagi hanya menyampaikan informasi, tetapi siswa didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilan mereka sendiri. 

Guru berperan sebagai fasilitator, membantu mengaitkan pengetahuan awal siswa dengan informasi baru, memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sesuai gaya belajar mereka, dan membimbing mereka ketika menghadapi kesulitan.

2. Pembelajaran Kolaboratif

Siswa perlu dibelajarkan untuk berkolaborasi dengan orang lain, menghargai keberagaman budaya, dan bekerja sama dalam proyek. Kolaborasi tidak hanya terbatas pada lingkungan kelas, tetapi juga melibatkan sekolah dan guru dalam kerja sama global. 

Berbagi informasi dan pengalaman dengan lembaga pendidikan di seluruh dunia dapat memajukan metode pembelajaran, mendorong perubahan positif, dan meningkatkan hasil pendidikan.

3. Pembelajaran Kontekstual

Materi pelajaran harus memiliki relevansi dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru perlu mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa menghubungkan pelajaran dengan dunia nyata. 

Penilaian kinerja siswa juga sebaiknya dikaitkan dengan aplikasi dunia nyata, memastikan bahwa pembelajaran memiliki dampak langsung terhadap kehidupan siswa di luar sekolah.

4. Sekolah Terintegrasi dengan Masyarakat

Sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga tempat untuk melibatkan siswa dalam masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat, partisipasi dalam program-program pembangunan masyarakat, dan kunjungan ke panti asuhan adalah cara untuk melibatkan siswa dalam lingkungan sosial mereka. 

Hal ini tidak hanya membantu mengembangkan kepedulian sosial, tetapi juga menciptakan warga negara yang bertanggung jawab.

Penerapan prinsip-prinsip ini akan membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang relevan, kolaboratif, dan terintegrasi dengan kehidupan nyata siswa. Melalui pendekatan ini, pendidikan abad ke-21 dapat memberikan bekal yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Model-Model Pembelajaran Abad 21

Dalam menghadapi tantangan abad ke-21 yang penuh dinamika, diperlukan model-model pembelajaran di kelas yang dapat mengembangkan keterampilan dan pengetahuan siswa sesuai dengan tuntutan zaman. 

Model pembelajaran yang efektif tidak hanya harus memenuhi standar akademis, tetapi juga harus mempersiapkan siswa dengan keterampilan abad 21, seperti kreativitas, kritis berpikir, kolaborasi, komunikasi, dan keterampilan digital.

Oleh karena itu, guru dan pendidik perlu memahami dan menerapkan berbagai model pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masa kini dan masa depan. Berikut, beberapa model pembelajaran abad 21 yang disarankan untuk digunakan di dalam kelas

1. Model Pembelajaran Berbasis Proyek

Salah satu model pembelajaran yang mendapat sorotan dalam konteks kebutuhan abad 21 adalah pembelajaran berbasis proyek. Melibatkan siswa dalam proyek nyata membantu mereka mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, kerjasama tim, dan kreativitas. 

Guru bukan hanya pendidik, tetapi juga fasilitator yang memberikan arahan dan mendukung siswa dalam mengeksplorasi ide-ide inovatif mereka.

2. Pembelajaran Kolaboratif

Kolaborasi menjadi kunci dalam lingkungan kerja modern. Oleh karena itu, model pembelajaran kolaboratif menjadi semakin penting. 

Guru dapat mempromosikan kerjasama antar siswa, menciptakan suasana di mana ide-ide berbeda dihargai, dan membangun keterampilan komunikasi yang efektif. 

Pembelajaran kolaboratif menciptakan lingkungan inklusif di mana setiap siswa merasa dihargai.

3. Pembelajaran Adaptif 

Teknologi menjadi elemen tak terpisahkan dalam abad 21. Model pembelajaran adaptif, yang menyesuaikan materi pembelajaran dengan tingkat pemahaman siswa, dapat diwujudkan melalui penggunaan teknologi pendidikan. 

Penggunaan aplikasi, platform pembelajaran online, dan alat bantu pembelajaran lainnya dapat mempersonalisasi pengalaman belajar, memungkinkan setiap siswa tumbuh sesuai dengan potensinya.

4. Pembelajaran Berbasis Masalah

Menghadapi masalah dunia nyata dalam pembelajaran dapat memberikan siswa pemahaman yang lebih dalam tentang konsep-konsep akademis dan keterampilan abad 21. Pembelajaran berbasis masalah melibatkan siswa dalam penyelesaian masalah nyata, mendorong pemikiran analitis, dan kreativitas.

5. Flipped Classroom

Model ini mengubah peran tradisional guru dan siswa. Materi pelajaran disajikan secara daring sebelum pertemuan kelas, sementara waktu di kelas digunakan untuk diskusi, penerapan konsep, dan proyek kolaboratif. Hal ini memungkinkan siswa belajar secara mandiri dan meningkatkan partisipasi aktif di dalam kelas.

6. Pembelajaran Berbasis Game

Mengintegrasikan unsur permainan ke dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa. Model ini memanfaatkan elemen permainan, seperti tantangan, pencapaian, dan kompetisi, untuk memperkuat pemahaman konsep dan keterampilan.

7. Pembelajaran Berbasis Tim

Model ini menekankan pada kerja sama tim dalam menyelesaikan tugas atau proyek. Siswa belajar untuk bekerja bersama, membangun keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan resolusi konflik. Pembelajaran berbasis tim mencerminkan kebutuhan dunia kerja yang seringkali memerlukan kemampuan kolaborasi.

8. Inquiry-Based Learning

Model ini mendorong siswa untuk mengeksplorasi dan menemukan pengetahuan sendiri melalui pertanyaan dan investigasi. Guru berperan sebagai fasilitator, membimbing siswa dalam proses menemukan jawaban sendiri. Pembelajaran berbasis penemuan merangsang rasa ingin tahu dan pemikiran analitis.

9. Skills-Based Learning

Model ini fokus pada pengembangan keterampilan praktis yang diperlukan dalam dunia nyata, seperti keterampilan komunikasi, pemecahan masalah, dan keterampilan interpersonal. Guru memberikan tugas yang menuntut penerapan langsung dari keterampilan tersebut.

10. Pembelajaran Jarak Jauh dan Hibrida

Sejalan dengan tren teknologi dan fleksibilitas, model pembelajaran jarak jauh dan hibrida menjadi relevan. Siswa dapat mengakses materi pembelajaran dari mana saja, dan guru dapat menciptakan pengalaman belajar yang terintegrasi antara kelas fisik dan virtual.

Berbagai model pembelajaran ini memberikan pendekatan yang beragam dalam memenuhi kebutuhan abad 21. Kombinasi dan adaptasi model-model ini sesuai dengan konteks dan karakteristik siswa dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan relevan.

TPACK dalam Pembelajaran Abad Ke-21

TPACK, singkatan dari Technological Pedagogical Content Knowledge, merujuk pada pendekatan pembelajaran yang menggabungkan sistem pendidikan dengan fokus pada penerapan teknologi dan konten tertentu dalam proses pembelajaran. 

Konsep ini menekankan perlunya seorang guru memiliki tiga kemampuan utama, yakni kemampuan dalam bidang teknologi, pedagogi, dan konten (materi ajar). Dalam kerangka TPACK, terdapat tujuh domain yang melibatkan berbagai aspek pembelajaran:

  1. Pengetahuan Materi (Content Knowledge): Guru harus menguasai bidang studi atau materi yang diajarkan, termasuk aspek-aspek seperti grammar, tenses, vocabulary, serta keterampilan berbicara, menulis, mendengarkan, dan membaca dalam konteks pelajaran Bahasa Inggris SMP.
  2. Pengetahuan Pedagogis (Pedagogical Knowledge): Kemampuan dalam memahami peserta didik, merancang dan melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi hasil belajar, serta mengembangkan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan diri.
  3. Pengetahuan Teknologi (Technological Knowledge): Keterampilan guru dalam memanfaatkan teknologi digital, termasuk kemampuan untuk selalu memperbarui pengetahuan terkait perkembangan teknologi yang dapat mendukung proses pembelajaran, seperti aplikasi web meeting dan video editor.
  4. Pengetahuan Pedagogi dan Materi (Pedagogical Content Knowledge): Penggunaan pendekatan pengajaran yang spesifik untuk memahami hubungan kompleks antara mengajar dan konten yang diajarkan, dikembangkan melalui pengalaman praktis di kelas.
  5. Pengetahuan Teknologi dan Materi (Technological Content Knowledge): Pengetahuan guru tentang teknologi digital yang mendukung bidang studi yang diajarkan.
  6. Pengetahuan tentang Teknologi dan Pedagogi (Technological Pedagogical Knowledge): Pengetahuan mengenai teknologi digital dan strategi pembelajaran yang efektif.
  7. Pengetahuan tentang Teknologi, Pedagogi, dan Materi (Technological, Pedagogical, Content Knowledge): Integrasi pengetahuan tentang teknologi digital, proses pembelajaran, dan materi pelajaran untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang holistik.

Dalam mempraktikkan TPACK, seorang guru diharapkan mampu menyatukan ketiga elemen ini secara harmonis untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan peserta didik. 

Implementasi Pembelajaran Abad 21 dalam Kurikulum Merdeka

Pendidikan memiliki peran krusial dalam mempersiapkan individu untuk menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, terutama di tengah pesatnya perkembangan era globalisasi. Dalam menghadapi tantangan ini, pemerintah telah merespons dengan merancang Kurikulum Merdeka Belajar, sebuah pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masa kini, khususnya di era digital dan teknologi yang terus berkembang. Seiring dengan hal tersebut, muncul pula Model Pembelajaran Abad 21.

Kurikulum Merdeka Belajar dirancang dengan tiga pilar utama, yakni Merdeka Belajar, Merdeka Berpikir, dan Merdeka Bertindak. Tujuan utamanya adalah menciptakan lingkungan belajar yang inovatif dan kreatif, memotivasi siswa untuk menjadi pribadi yang mandiri dan berkarakter. 

Model Pembelajaran Abad 21 juga memiliki misi serupa, yaitu membentuk siswa yang kreatif, mampu berpikir kritis, dan siap menghadapi kompleksitas masa depan.

Sama seperti Kurikulum Merdeka Belajar, Model Pembelajaran Abad 21 menitikberatkan pada pendekatan siswa-berpusat, memberikan kebebasan kepada siswa untuk menentukan cara belajar mereka dan mengeksplorasi minat mereka. 

Ini menciptakan motivasi intrinsik yang mendorong proses pembelajaran. Penggunaan teknologi juga menjadi fokus utama dalam kedua pendekatan ini, membantu siswa memperluas akses mereka ke informasi dan menyajikan pembelajaran yang lebih interaktif.

Walaupun kesamaannya mencolok, terdapat perbedaan signifikan antara Kurikulum Merdeka Belajar dan Model Pembelajaran Abad 21. 

Salah satu perbedaan utamanya terletak pada fokus pembelajaran. Kurikulum Merdeka Belajar lebih menonjolkan pengembangan karakter siswa, sementara Model Pembelajaran Abad 21 lebih menitikberatkan pada keterampilan siswa dalam menghadapi tantangan masa depan, seperti berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi.

Selain itu, Kurikulum Merdeka Belajar mempertimbangkan pentingnya pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan etika dalam menggunakan teknologi. Di sisi lain, Model Pembelajaran Abad 21 lebih menekankan pada pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.

Meskipun demikian, keberadaan perbedaan ini bukan untuk menciptakan polarisasi, melainkan untuk memberikan peluang integrasi dan penggabungan. Untuk mencapai hasil optimal, Kurikulum Merdeka Belajar dan Model Pembelajaran Abad 21 dapat saling melengkapi dan dikombinasikan. 

Penerapan keduanya dapat diupayakan dengan berbagai cara yang memungkinkan integrasi seimbang antara pengembangan karakter, keterampilan, dan pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran.

Kombinasi antara Kurikulum Merdeka Belajar dan Model Pembelajaran Abad 21 memiliki potensi besar untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang holistik dan relevan. Adapun implementasinya, ada beberapa pendekatan yang dapat ditempuh.

Pertama, guru dapat memberikan siswa kebebasan dalam memilih topik pembelajaran, sambil memastikan bahwa pilihan tersebut tetap relevan dengan kurikulum yang ada. Langkah ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk menggali minat pribadi mereka, sambil tetap memenuhi standar pembelajaran yang ditetapkan.

Kedua, pemanfaatan teknologi menjadi kunci dalam proses pembelajaran. Guru dapat memanfaatkan platform e-learning dan aplikasi mobile untuk memberikan fleksibilitas waktu dan tempat kepada siswa. Dengan demikian, proses belajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas, melainkan dapat terjadi secara lebih dinamis di berbagai lingkungan.

Sebagai langkah ketiga, pendekatan pembelajaran yang interaktif dan kolaboratif dapat diterapkan. Diskusi kelompok, proyek berbasis masalah, dan simulasi menjadi metode efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial dan kreativitas siswa. Melalui pendekatan ini, siswa dapat belajar tidak hanya dari materi, tetapi juga dari interaksi dengan teman sekelas.

Kurikulum Merdeka Belajar dan Model Pembelajaran Abad 21 tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa, tetapi juga dapat meningkatkan pengalaman belajar mereka. 

Kurikulum Merdeka Belajar memberikan struktur yang menyenangkan, sementara Model Pembelajaran Abad 21 menekankan pada pengembangan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi masa depan yang kompleks.

Meskipun demikian, keberhasilan implementasi memerlukan dukungan komprehensif dari semua pihak terkait, khususnya guru dan orang tua. Guru perlu terus mengembangkan keterampilan inovatif dan integratif mereka serta memahami cara mengintegrasikan teknologi dengan efektif dalam pembelajaran.

Baca Juga:

Sementara itu, peran orang tua dalam mendukung dan memotivasi anak-anak mereka untuk belajar secara mandiri dan kreatif sangat krusial. Selain itu, infrastruktur pendidikan, termasuk akses luas ke teknologi dan internet, harus diperhatikan untuk memastikan akses mudah dan lancar bagi semua siswa.

Kesimpulannya, meskipun terdapat perbedaan dalam fokus pembelajaran dan pengembangan keterampilan siswa antara Kurikulum Merdeka Belajar dan Model Pembelajaran Abad 21, integrasi keduanya dapat memberikan hasil yang optimal. 

Dengan dukungan dan keterlibatan penuh dari semua pihak terkait, diharapkan bahwa kombinasi ini dapat membawa manfaat besar bagi siswa, membentuk mereka menjadi individu yang siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Muh. Akbar
Muh. Akbar "Live with an attitude of gratitude for the experiences that shape you, and learn with an insatiable hunger for understanding the world and your place in it."