Blogger Jateng

7 Tema P5 Kurikulum Merdeka yang Bisa Dipilih Satuan Pendidikan!

Nyero.ID - Dalam upaya menjawab tantangan pendidikan abad ke-21, Indonesia terus berupaya untuk mengembangkan pendekatan inovatif dalam proses pembelajaran. Salah satu terobosan terbaru pemerintah yaitu lahirnya Kurikulum Merdeka, yang di dalamnya mencakup P5, yaitu Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. 

P5 Kurikulum Merdeka bukanlah sekadar suatu program, tetapi sebuah transformasi fundamental dalam pendidikan nasional yang bertujuan untuk membentuk karakter, kompetensi, dan kesadaran Pancasila pada setiap peserta didik. 

Jika merujuk pada Kemendikbudristek No.56/M/2022, P5 merupakan kegiatan kokurikuler berbasis projek yang dirancang guna menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila yang telah disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan.

Tema P5 Kurikulum Merdeka

Dalam konteks ini, penting untuk menggali esensi dan signifikansi P5 dalam Kurikulum Merdeka, serta bagaimana pendekatan ini dapat membawa perubahan positif dalam perkembangan pendidikan di Indonesia.

Tema Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Kurikulum Merdeka

Dalam konteks pendidikan yang terus berkembang, pemahaman mendalam tentang tema P5 Kurikulum Merdeka sangatlah penting. Oleh karena itu, mari kita jelajahi esensi dari tema ini serta bagaimana penerapannya dapat membentuk karakter, kepemimpinan, dan kesadaran Pancasila pada peserta didik:

1. Gaya Hidup Berkelanjutan

Gaya hidup berkelanjutan merupakan konsep yang menekankan pada kesadaran dan pandangan jangka panjang dalam menjalani kehidupan. Tema ini menjadi bagian dari diskusi dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah.

Dalam kerangka P5, gaya hidup berkelanjutan bertujuan untuk membantu siswa memahami dampak aktivitas manusia, baik secara jangka pendek maupun panjang, terhadap kelangsungan hidup di dunia dan lingkungan sekitarnya.

Melalui pembelajaran ini, siswa dapat membangun kesadaran untuk bersikap dan bertindak secara ramah lingkungan, seperti yang disampaikan dalam buku "The Power of ABCD: Asset Based Community Development" karya Gede Benny Kurniawan (2023).

Tantangan global yang dihadapi oleh banyak orang di dunia adalah mengadopsi gaya hidup berkelanjutan sebagai upaya kontribusi nyata untuk menjaga keberlanjutan hidup di bumi.

Oleh karena itu, materi tentang gaya hidup berkelanjutan menjadi bagian dari kurikulum P5 untuk semua tingkat pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga menengah.

Tahapan dalam mempelajari gaya hidup berkelanjutan ini didasarkan pada buku "Gaya Hidup Berkelanjutan: Panduan Guru Kelas 7" karya Eni Mufidah (2023). Tahapan tersebut mencakup:

  • Tahap Pengenalan: Guru mengenalkan dan meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya partisipasi individu dan kelompok dalam menjaga lingkungan. Siswa diajak untuk mengidentifikasi masalah lingkungan di lingkungan mereka, baik di kelas, sekolah, maupun rumah.
  • Tahap Kontekstual: Siswa diminta untuk menggali permasalahan lingkungan di sekitar mereka yang terkait dengan topik yang dipelajari. Mereka melakukan riset terpadu secara mandiri terhadap masalah lingkungan dalam skala yang lebih luas.
  • Tahap Aksi: Siswa merumuskan peran dan tindakan konkret yang dapat mereka lakukan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan. Mereka menyusun laporan tentang aksi nyata yang telah mereka lakukan di lingkungan kelas, sekolah, atau rumah.
  • Refleksi: Siswa berbagi gagasan dan hasil pemikiran mereka, serta mengevaluasi dan merefleksikan penerapan ide-ide tersebut pada proyek akhir.
  • Menyusun Langkah Strategis: Siswa mengambil langkah-langkah berdasarkan evaluasi dan refleksi mereka untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kelas, sekolah, maupun rumah.

Berikut adalah contoh dari proyek Gaya Hidup Berkelanjutan P5 dalam Program Merdeka:

a. Daur Ulang Sampah

Dalam rangka mendorong kesadaran akan keberlanjutan lingkungan, proyek gaya hidup berkelanjutan P5 di Kurikulum Merdeka memprioritaskan upaya mendaur ulang sampah di lingkungan sekolah.

Melalui proyek ini, siswa diajak untuk memahami jenis-jenis sampah yang dapat didaur ulang serta manfaatnya bagi keberlangsungan lingkungan. Mulai dari kertas, botol minuman, hingga stik es krim, sampah-sampah tersebut diubah menjadi barang-barang berguna seperti kotak pensil, hiasan lampu, hingga miniatur rumah.

Dengan mendaur ulang sampah, siswa tidak hanya menjadi lebih inovatif dalam menciptakan karya dari bahan yang tidak terpakai, tetapi juga terlatih dalam memilah dan membedakan jenis sampah yang bisa didaur ulang.

b. Taman Kreasi Siswa

Selain mendaur ulang, proyek gaya hidup berkelanjutan P5 juga melibatkan pembuatan Taman Kreasi Siswa. Melalui taman ini, siswa diberikan kesempatan untuk mengekspresikan kreativitas mereka sambil belajar tentang pentingnya gaya hidup berkelanjutan.

Dengan memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan, siswa dapat merancang taman di lingkungan sekolah dan menanam berbagai jenis tanaman. Tak hanya itu, mereka juga diminta untuk menciptakan kreasi tong sampah organik dan non-organik.

Melalui berbagai kampanye yang diselenggarakan, para siswa pun berupaya menyebarkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dan menerapkan gaya hidup berkelanjutan.

c. Pemanfaatan Limbah Plastik

Salah satu proyek terbaru yang dilaksanakan adalah pengelolaan plastik untuk gaya hidup berkelanjutan. Langkah ini diambil untuk mengedukasi siswa tentang bahaya penggunaan plastik sekali pakai.

Melalui proyek ini, siswa didorong untuk menghindari penggunaan plastik sekali pakai dengan mengadopsi kebiasaan membawa botol air minum sendiri atau mengganti sedotan plastik dengan yang terbuat dari stainless steel.

Selain itu, siswa juga ditugaskan untuk mengelola sampah plastik di sekolah, baik dengan mendaur ulang maupun melalui pembentukan bank sampah.

Dengan demikian, proyek-proyek gaya hidup berkelanjutan P5 dalam Program Merdeka tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam membentuk generasi yang peduli terhadap lingkungan dan menerapkan gaya hidup yang berkelanjutan.

2. Kearifan Lokal

Kearifan lokal tidak hanya mencerminkan identitas suatu bangsa, tetapi juga menjadi bagian integral dari karakter dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Hal ini tercermin dalam berbagai bentuk, mulai dari sastra lisan seperti puisi dan cerita rakyat, tradisi, benda-benda budaya, hingga produk seni dan kerajinan.

Kearifan lokal bukan hanya sekadar warisan leluhur, tetapi juga menjadi pedoman bagi perilaku manusia dalam kehidupan ekologis dan sistemik.

Dengan memahami kearifan lokal, masyarakat dapat mengenali serta menghargai nilai-nilai, kepercayaan, dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

Sayangnya, dengan arus globalisasi yang semakin kuat, nilai-nilai kearifan lokal sering kali terabaikan. Generasi saat ini cenderung tidak mengenal atau bahkan tidak memahami makna dari kearifan lokal di lingkungan tempat tinggal mereka.

Hal ini mengakibatkan tantangan-tantangan terkait sumber daya alam dan lingkungan lokal dihadapi tanpa persiapan yang memadai. Padahal, sebagian besar nilai kearifan lokal memiliki potensi untuk bertindak secara preventif terhadap masalah-masalah yang timbul.

Data statistik budaya menunjukkan bahwa banyak warisan budaya, seperti kesenian dan bahasa daerah, tengah menghadapi ancaman punah.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran yang besar, karena ragam kesenian dan bahasa daerah merupakan akumulasi dari kearifan lokal yang telah terjaga selama bertahun-tahun.

Budaya lokal juga memiliki peran penting dalam melestarikan sumber daya alam dan memperkuat hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta.

Oleh karena itu, penting bagi sekolah sebagai lembaga pendidikan untuk berperan dalam melestarikan kearifan lokal.

Melalui pengenalan dan pengalaman langsung dengan budaya lokal, sekolah dapat membantu peserta didik untuk memahami dan menginternalisasi nilai-nilai tersebut.

Proses pembelajaran yang melibatkan kearifan lokal juga dapat memperkaya pengalaman belajar siswa serta membentuk sikap yang inklusif dan menghargai keragaman.

Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, diperlukan proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang mengintegrasikan tema Kearifan Lokal.

Proses ini melibatkan empat tahapan yang saling terkait, yakni: mengenali pengetahuan lokal, menggali bentuk-bentuk kearifan lokal, mewujudkan aksi pelestarian budaya lokal, dan berbagi pengalaman serta melakukan evaluasi.

Proyek ini tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan kearifan lokal secara teoretis, tetapi juga mendorong siswa untuk kritis terhadap fungsi kearifan lokal dalam konteks masalah lingkungan saat ini.

Fleksibilitas dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek tersebut sangat diperlukan, mengingat setiap sekolah memiliki kondisi yang berbeda-beda.

Guru dan kepala sekolah memiliki peran penting dalam menyesuaikan kegiatan, alokasi waktu, dan metode pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan siswa dan kondisi sekolah.

Dengan demikian, upaya melestarikan kearifan lokal tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga merupakan komitmen bersama untuk menjaga keberagaman budaya dan melindungi warisan budaya bangsa untuk generasi mendatang.

3. Bhinneka Tunggal Ika

Indonesia, sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya, suku, dan agama, selalu menghadirkan semangat "Bhineka Tunggal Ika" dalam kehidupan sehari-hari. 

Semboyan ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan dari nilai-nilai inklusifitas dan persatuan yang menjadi pondasi bangsa.

Dalam dunia pendidikan, tema Bhineka Tunggal Ika terus dijaga keberlangsungannya, terutama melalui proyek penguatan profil Pelajar Pancasila dalam implementasi Kurikulum Merdeka Belajar.

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila bertujuan untuk membentuk karakter siswa yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, sebagai dasar dalam menjalin harmoni dan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam konteks ini, Bhineka Tunggal Ika menjadi landasan utama, mengajarkan siswa untuk menghargai perbedaan dan merangkul keberagaman sebagai kekuatan, bukan sebagai perpecahan. Dengan demikian, setiap siswa diajak untuk menjadi agen perdamaian dalam lingkungan sekolah dan masyarakat.

Proyek ini juga bertujuan untuk membangun kesadaran multikultural pada siswa, sehingga mereka mampu menghargai dan menghormati keberagaman budaya, suku, dan agama yang ada di Indonesia.

Melalui kegiatan-kegiatan seperti seminar lintas budaya, festival keberagaman, dan pertukaran pelajar antar daerah, siswa diberi kesempatan untuk memperluas wawasan dan pemahaman mereka tentang keanekaragaman yang ada. Hal ini tidak hanya membentuk siswa yang inklusif, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar mereka.

Selain menginternalisasi nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika, proyek ini juga mengajak siswa untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, nilai gotong royong diajarkan melalui kegiatan-kegiatan kelas yang melibatkan kerjasama antarsiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas, serta melalui partisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Hal ini tidak hanya membentuk karakter kepemimpinan dan kepedulian sosial pada siswa, tetapi juga memperkuat rasa persatuan dan kesatuan di antara mereka.

Dalam pelaksanaannya, proyek ini menekankan pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan realitas sosial, budaya, dan lingkungan siswa.

Guru diharapkan mampu mengaitkan konsep-konsep Pancasila dengan situasi nyata yang ada di sekitar siswa, sehingga mereka dapat melihat relevansi dan urgensi dari nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka.  

4. Bangunlah Jiwa dan Raganya

Dalam menghadapi dinamika zaman yang terus berkembang, penting bagi setiap siswa untuk tidak hanya memiliki pengetahuan akademis yang kuat, tetapi juga membangun jiwa dan raganya secara seimbang.

Hal ini menjadi fokus utama dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang diintegrasikan ke dalam Kurikulum Merdeka.

Membangun jiwa merujuk pada upaya mengembangkan aspek mental dan spiritual siswa. Dalam konteks ini, tujuan utamanya adalah untuk membentuk karakter yang kuat, memiliki sikap yang baik, serta mampu menjadi teladan bagi orang lain.

Melalui pendekatan ini, siswa diajak untuk memahami nilai-nilai Pancasila dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu cara untuk membangun jiwa siswa adalah melalui literasi spiritual, seperti membaca kitab suci atau melakukan meditasi. Dengan demikian, siswa dapat mengembangkan kepekaan terhadap nilai-nilai moral dan etika yang sesuai dengan ajaran Pancasila.

Sementara itu, membangun raga mengacu pada pentingnya menjaga kesehatan fisik siswa dan mengaktifkan mereka dalam kegiatan yang mendukung pembelajaran.

Ini mencakup tidak hanya aspek fisik, tetapi juga keterampilan sosial dan emosional yang dapat membantu siswa menjadi lebih mandiri dan percaya diri.

Dalam konteks ini, siswa didorong untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan olahraga dan seni, seperti senam pagi, tari, atau bela diri. Selain itu, mereka juga diajak untuk berkolaborasi dalam proyek-proyek yang melibatkan kreativitas dan inovasi.

Tema "Bangunlah Jiwa dan Raganya" menjadi bagian integral dari P5 Kurikulum Merdeka untuk semua tingkat pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga menengah. 

Melalui pendekatan yang holistik ini, diharapkan siswa dapat tumbuh dan berkembang secara menyeluruh, baik dari segi spiritual maupun fisik.

Dalam pelaksanaannya, guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam memahami dan menerapkan konsep-konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 

Mereka menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, memberikan inspirasi, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang secara optimal.

5. Rekayasa dan Teknologi

Dalam menghadapi era globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, Indonesia memiliki tantangan untuk terus memperkuat dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Salah satu tema proyek yang sangat relevan dalam konteks ini adalah rekayasa dan teknologi, yang berfokus pada pengembangan produk berteknologi untuk memudahkan kegiatan sehari-hari dan menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi masyarakat.

Kolaborasi menjadi kunci dalam proyek ini karena dapat melatih keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif pada para pelajar. Mengapa tema ini penting bagi pelajar di setiap tingkatan pendidikan? Berikut beberapa alasan utamanya:

  • Mengasah Keterampilan Berpikir Kritis: Proyek ini membantu murid mengasah keterampilan berpikir kritis dalam menghadapi tantangan teknologi. Mereka diajak untuk menggunakan sistem berpikir komputasional atau design thinking dalam menciptakan solusi dan produk yang bermanfaat.
  • Memahami Proses Rekayasa: Murid akan mempelajari proses rekayasa mulai dari menentukan spesifikasi hingga melakukan uji coba untuk membangun model atau prototipe produk. Ini membantu mereka memahami proses pembangunan produk secara menyeluruh.
  • Ketrampilan Coding dan Kreativitas dalam Robotika: Pelajaran coding dan berkreasi di bidang robotika menjadi fokus penting, mengingat teknologi digital semakin mendominasi dunia saat ini.
  • Mewujudkan Budaya Smart Society: Proyek ini bertujuan membantu murid memahami dan mewujudkan budaya Smart Society di masa depan. Mereka diajak untuk berperan dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial melalui inovasi dan teknologi.

Contoh konkretnya, pada tingkat Sekolah Dasar, murid dapat merancang desain inovatif untuk sarana transportasi sungai, yang masih menjadi sarana utama di beberapa daerah di Indonesia. 

Pada tingkat Sekolah Menengah Pertama, mereka dapat merancang desain inovasi alat transportasi sungai dengan mempertimbangkan beragam sumber bahan bakar. 

Sedangkan pada tingkat Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan, murid dapat dilibatkan dalam merancang alat transportasi sungai dengan proses rekayasa yang lebih kompleks dan menggunakan teknologi robotik.

Melalui keterampilan dan pemahaman mereka dalam merekayasa dan teknologi, generasi muda Indonesia akan siap menghadapi tantangan masa depan dengan percaya diri, serta memberikan dampak positif bagi masyarakat dan negara.

6. Kewirausahaan

Dalam era yang terus berkembang dan berubah, kewirausahaan menjadi keterampilan yang sangat penting bagi setiap individu, tidak hanya untuk menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri, tetapi juga untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat. 

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka Belajar menawarkan platform yang ideal untuk membangun jiwa kewirausahaan di kalangan siswa. 

Salah satu aspek utama dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk berinovasi dan berkreasi. Proyek ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide-ide baru dan menciptakan solusi untuk masalah-masalah yang ada di sekitar mereka. 

Melalui kegiatan proyek, siswa diajak untuk berpikir out-of-the-box dan melihat peluang bisnis di sekitar mereka. 

Kewirausahaan juga melibatkan kemampuan untuk mengelola sumber daya dan memimpin tim. Dalam proyek ini, siswa diberi kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan manajerial dan kepemimpinan mereka melalui perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan berbagai kegiatan. 

Hal ini tidak hanya membantu mereka memahami dinamika bisnis, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinan yang kuat. 

Selain mengembangkan keterampilan bisnis, proyek ini juga menekankan pentingnya etika dalam berwirausaha. Siswa diajarkan untuk berperilaku secara etis dalam setiap aspek bisnis, termasuk dalam hal transaksi, komunikasi, dan pengambilan keputusan. 

Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi pengusaha yang sukses, tetapi juga menjadi agen perubahan yang bertanggung jawab dalam masyarakat. 

Melalui proyek ini, siswa diberi kesempatan untuk merasakan langsung pengalaman menjadi seorang entrepreneur. Mereka belajar tentang proses dari konsepsi ide bisnis hingga pelaksanaan, serta menghadapi tantangan dan risiko yang mungkin terjadi di sepanjang jalan. 

Hal ini membantu mereka membangun jiwa enterpreneurial yang tangguh dan pantang menyerah.

7. Suara demokrasi

Demokrasi adalah fondasi utama dalam sistem pemerintahan Indonesia, yang menempatkan suara rakyat sebagai kekuatan utama dalam pengambilan keputusan. 

Melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka Belajar, tema suara demokrasi menjadi pokok pembahasan yang penting, membentuk pemimpin masa depan yang memiliki pemahaman yang kuat tentang nilai-nilai demokrasi.

Proyek ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami prinsip-prinsip dasar demokrasi, termasuk hak-hak dan kewajiban sebagai warga negara yang berdaulat. 

Melalui diskusi, debat, dan simulasi pemilihan umum, siswa diberi pemahaman yang mendalam tentang proses demokrasi dan pentingnya partisipasi aktif dalam menjaga stabilitas dan kemajuan negara.

Suara demokrasi tidak hanya tentang hak untuk memilih, tetapi juga tentang keterlibatan aktif dalam proses pengambilan keputusan di masyarakat. 

Melalui proyek ini, siswa diajak untuk menjadi agen perubahan yang aktif, baik di sekolah maupun di masyarakat, dengan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial, politik, dan kemasyarakatan. 

Hal ini membantu mereka memahami pentingnya peran individu dalam membangun masyarakat yang demokratis dan berkeadilan.

Demokrasi juga menghargai keberagaman pendapat dan memfasilitasi dialog yang inklusif. Dalam proyek ini, siswa diajarkan untuk mendengarkan dan menghormati pandangan-pandangan yang berbeda, serta untuk membangun argumen-argumen yang rasional dan terinformasi. 

Hal ini membantu mereka memperkuat keterampilan komunikasi dan negosiasi, serta memperluas pemahaman mereka tentang kompleksitas isu-isu sosial dan politik.

Sebagai pemimpin masa depan, siswa diharapkan untuk memahami tanggung jawab mereka dalam menjaga dan memperkuat sistem demokrasi. 

Melalui proyek ini, mereka diajak untuk membangun komitmen terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai landasan demokrasi Indonesia, serta untuk menjadi agen perubahan yang progresif dan inklusif dalam memajukan demokrasi di tanah air.

Dalam rangka membangun generasi yang cerdas dan beretika, Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka Belajar memainkan peran penting dalam membentuk pemimpin masa depan yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai demokrasi. 

Baca Juga:

Dengan mengokohkan suara demokrasi dalam pendidikan, diharapkan setiap siswa dapat tumbuh menjadi warga negara yang sadar akan hak dan kewajiban mereka dalam membangun masyarakat yang demokratis, adil, dan sejahtera.

Muh. Akbar
Muh. Akbar "Live with an attitude of gratitude for the experiences that shape you, and learn with an insatiable hunger for understanding the world and your place in it."