Penyusunan Soal & Instrumen Penilaian Berbasis HOTS dalam Kurikulum Merdeka

Daftar Isi

Nyero.ID - Penilaian berbasis HOTS menggabungkan dua konsep kunci, yaitu penilaian dan HOTS (Higher Order Thinking Skill). Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2016, penilaian adalah suatu proses pengumpulan dan pengolahan informasi yang bertujuan mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. 

Di sisi lain, HOTS mencakup kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif, yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Dengan demikian, penilaian berbasis HOTS dapat diartikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik, khususnya dalam aspek kemampuan berpikir tingkat tinggi. Untuk mendapatkan informasi yang relevan dalam proses penilaian ini, digunakan alat atau instrumen yang dikenal sebagai Soal HOTS.

Penyusunan Soal Berbasis HOTS dalam Kurikulum Merdeka

Soal HOTS merupakan instrumen pengukuran yang dirancang untuk menilai kemampuan berpikir tingkat tinggi, melibatkan aspek-aspek seperti transfer konsep, pemrosesan dan penerapan informasi, pencarian kaitan dari berbagai sumber informasi, penggunaan informasi untuk memecahkan masalah, serta penelaahan ide dan informasi secara kritis.

Penting untuk dicatat bahwa soal-soal berbasis HOTS tidak semata-mata lebih sulit daripada soal recall. Dalam konteks asesmen, soal HOTS mengukur kemampuan metakognitif, yang melibatkan keterampilan menghubungkan konsep, menginterpretasikan informasi, memecahkan masalah, memilih strategi pemecahan masalah, menemukan metode baru, berargumen, dan mengambil keputusan yang tepat.

Dalam merumuskan indikator soal HOTS, pemilihan kata kerja operasional (KKO) menjadi krusial. Indikator ini mencakup tingkat berpikir tingkat tinggi mulai dari C4 hingga C6, yang menekankan pada kemampuan metakognitif dalam mengaitkan konsep, memecahkan masalah, dan membuat keputusan yang mendalam. Dengan demikian, penilaian berbasis HOTS bukan hanya mengukur pemahaman faktual, konseptual, atau prosedural, tetapi juga mengevaluasi kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik.

Asal Usul Istilah HOTS

Istilah HOTS pertama kali diperkenalkan melalui konsep yang diusung oleh Benjamin S. Bloom dan rekan-rekannya dalam buku berjudul "Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals" pada tahun 1956. 

Dalam buku tersebut, Bloom dan timnya memaparkan konsep Taksonomi Bloom yang mengklasifikasikan berbagai tingkat pemikiran, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi. Taksonomi Bloom membahas tiga ranah tujuan pembelajaran, yakni:

  1. Ranah Kognitif: Berkaitan dengan keterampilan mental seputar pengetahuan.
  2. Ranah Afektif: Menyentuh sisi emosional terkait sikap dan perasaan.
  3. Ranah Psikomotorik: Berfokus pada kemampuan fisik dan keterampilan.

Konsep Taksonomi Bloom dapat dianggap sebagai panduan dalam menetapkan tujuan akhir dari suatu proses pembelajaran. Artinya, setelah menjalani suatu proses belajar, diharapkan siswa mampu mengadopsi keterampilan, pengetahuan, dan sikap baru.

HOTS sendiri merupakan bagian dari ranah kognitif dalam Taksonomi Bloom, yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan mental terkait pengetahuan. Pada tahun 2001, konsep Taksonomi Bloom kemudian direvisi oleh Lorin Anderson, David Karthwohl, dan rekan-rekan. Revisi tersebut mengubah urutan ranah kognitif menjadi enam tingkatan, yaitu:

  1. Mengingat (Remembering)
  2. Memahami (Understanding)
  3. Mengaplikasikan (Applying)
  4. Menganalisis (Analyzing)
  5. Mengevaluasi (Evaluating)
  6. Mencipta (Creating)

Tingkatan 1 hingga 3 dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat rendah (LOTS), sementara tingkatan 4 sampai 6 dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Dengan demikian, HOTS menjadi fokus untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa.

Karakteristik dan Ciri Utama Soal HOTS

Karakteristik soal HOTS menjadi krusial dalam mengidentifikasi apakah sebuah soal termasuk dalam kategori HOTS. Ada tiga kategori utama yang mencirikan soal HOTS:

1. Mengukur Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi

Soal HOTS bertujuan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Menurut The Australian Council for Educational Research (ACER), kemampuan ini melibatkan proses analisis, refleksi, memberikan argumen, menerapkan konsep dalam situasi berbeda, menyusun, dan menciptakan. Dengan demikian, soal HOTS tidak menyuguhkan jawaban eksplisit dalam stimulus, mengharuskan peserta didik untuk mengaplikasikan pemahaman mereka secara mendalam.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi mencakup pemecahan masalah, keterampilan berpikir kritis, berpikir kreatif, kemampuan berargumen, dan kemampuan mengambil keputusan. Keberadaan kreativitas dalam menyelesaikan permasalahan HOTS mencakup kemampuan menyelesaikan masalah yang tidak familiar, mengevaluasi strategi dari berbagai sudut pandang, dan menemukan model penyelesaian baru.

Perlu dicatat bahwa tingkat kesukaran soal bukanlah indikator langsung dari kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kemampuan ini dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas, di mana aktivitas pembelajaran mendorong peserta didik untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis.

2. Berbasis Permasalahan Kontekstual 

Soal HOTS dirancang sebagai asesmen berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik diharapkan mampu menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah dalam konteks kehidupan nyata. Permasalahan kontekstual ini melibatkan isu-isu terkini seperti lingkungan, kesehatan, keberlanjutan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.

Lima karakteristik asesmen kontekstual, disingkat REACT, mencakup: Relating (terkait langsung dengan pengalaman hidup nyata), Experiencing (penggalian, penemuan, dan penciptaan), Applying (menerapkan ilmu pengetahuan dalam menyelesaikan masalah nyata), Communicating (mampu mengomunikasikan kesimpulan), dan Transferring (mentransformasikan konsep-konsep ke dalam situasi baru).

3. Menggunakan Bentuk Soal Beragam

Penting untuk menyusun perangkat tes HOTS dengan berbagai bentuk soal. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi yang lebih rinci dan menyeluruh tentang kemampuan peserta tes. Bentuk-bentuk soal seperti pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, isian singkat, jawaban singkat, dan uraian dapat digunakan.

Soal HOTS terdiri dari butir soal, dan setiap butir selalu didukung oleh dasar pertanyaan (stimulus). Stimulus ini mengandung informasi yang kontekstual, membutuhkan kemampuan peserta didik dalam menginterpretasi, menganalisis, menyimpulkan, memprediksi, atau menciptakan sesuai dengan konteks nyata.

Dengan memahami karakteristik-karakteristik tersebut, pembuatan soal HOTS dapat lebih terarah dan mendukung pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada peserta didik.

Cara Membuat Soal HOTS yang Baik

Penyusunan soal HOTS merupakan proses yang memerlukan perhatian khusus untuk memastikan bahwa butir soal yang dihasilkan sesuai dengan tujuan pengukuran kemampuan berpikir tingkat tinggi. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat diikuti dalam penyusunan soal HOTS:

1. Analisis Kompetensi Dasar (KD)

Langkah pertama dalam menyusun soal HOTS adalah menganalisis Kompetensi Dasar/KD (kurikulum 2013) atau Tujuan Pembelajaran/TP (kurikulum Merdeka) yang dapat dijadikan dasar pembuatan soal. Tidak semua KD/TP cocok untuk model soal HOTS (baca: perbedaan K13 dan Kurikulum Merdeka), sehingga guru perlu melakukan analisis mandiri atau melalui forum MGMP untuk menentukan KD/TP yang sesuai.

2. Penyusunan Soal HOTS Berdasarkan Kisi-Kisi

Kisi-kisi penulisan soal HOTS menjadi panduan utama bagi guru dalam menulis butir soal. Kisi-kisi membantu guru dalam memilih KD/TP yang dapat dijadikan dasar soal, memilih materi pokok terkait, merumuskan indikator soal, dan menentukan level kognitif yang diinginkan.

3. Pemilihan Stimulus yang Menarik dan Kontekstual

Stimulus yang digunakan dalam soal HOTS harus memiliki daya tarik untuk mendorong peserta didik membaca. Stimulus yang menarik umumnya bersifat baru dan belum pernah dibaca peserta didik, sementara stimulus kontekstual sesuai dengan realitas kehidupan sehari-hari. Dalam konteks Ujian Sekolah, guru dapat memilih stimulus dari lingkungan sekolah atau daerah setempat.

4. Penulisan Butir Pertanyaan Sesuai Kisi-Kisi

Butir pertanyaan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan butir soal HOTS. Penulisan butir soal HOTS memiliki perbedaan pada aspek materi, sementara aspek konstruksi dan bahasa relatif sama. Setiap butir soal ditulis pada kartu soal sesuai dengan format yang telah ditentukan.

5. Pembuatan Pedoman Penskoran atau Kunci Jawaban

Setiap butir soal HOTS yang telah ditulis harus dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban. Pedoman penskoran berlaku untuk bentuk soal uraian, sementara kunci jawaban diperlukan untuk bentuk soal pilihan ganda, pilihan ganda kompleks (benar/salah, ya/tidak), dan isian singkat.

Untuk bisa menyusun soal HOTS maka kita perlu mengembangkan soal HOTS. Berikut ini adalah alur pengembangan soal HOTS 

Langkah-langkah Pengemabangan Soal HOTS

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, guru dapat memastikan bahwa soal HOTS yang disusun tidak hanya sesuai dengan materi pembelajaran, tetapi juga dapat mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Proses ini menggabungkan pemahaman materi, keterampilan konstruksi soal, dan kreativitas dalam memilih stimulus sesuai dengan situasi dan kondisi daerah setempat.

Contoh soal HOTS Matematika Sederhana Untuk Jenjeng SD

1. Seorang petani memiliki kebun buah dengan 45 pohon apel dan 30 pohon mangga. Jika setiap baris kebun berisi 5 pohon, berapa jumlah baris yang dibutuhkan untuk menanam semua pohon tersebut?

  • a) 12 baris
  • b) 15 baris
  • c) 18 baris
  • d) 20 baris

Jawaban: b) 15 baris

2. Seorang penjual buku memiliki 80 pensil. Jumlah pensil tersebut setara dengan 3/4 dari total pensil yang dimiliki oleh dua penjual buku lainnya. Berapa total pensil yang dimiliki oleh kedua penjual buku tersebut?

  • a) 100
  • b) 120
  • c) 150
  • d) 160

Jawaban: c) 150

3. Dalam sebuah kotak terdapat 25 bola merah, 30 bola biru, dan 45 bola kuning. Jika satu bola diambil secara acak dari kotak, berapa peluangnya bola yang diambil berwarna biru?

  • a) 1/6
  • b) 1/3
  • c) 1/2
  • d) 2/3

Jawaban: b) 1/3

4. Seorang petualang memiliki tenda dengan alas berbentuk persegi panjang panjang 8 m, lebar 5 m, dan tinggi 1 m. Tentukan luas permukaan tenda tersebut.

  • a) 58 m²
  • b) 62 m²
  • c) 66 m²
  • d) 70 m²

Jawaban: c) 66 m²

5. Sebuah toko buah memiliki 60 baris tanaman stroberi. Setiap baris berisi 8 tanaman stroberi. Jika 15% dari tanaman tersebut mati, berapa jumlah tanaman stroberi yang mati?

  • a) 72
  • b) 90
  • c) 96
  • d) 108

Jawaban: a) 72

Peran Penting Soal HOTS dalam Peningkatan Mutu Penilaian

Soal-soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) memiliki tujuan utama, yaitu mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Ketika digunakan dalam penilaian, soal-soal HOTS memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas evaluasi. Beberapa peran tersebut diuraikan sebagai berikut:

1. Persiapan Menuju Abad ke-21

Penilaian yang mengintegrasikan soal-soal HOTS memiliki peran vital dalam mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi tuntutan abad ke-21 (baca: pembelajaran abad 21). Kompetensi yang dibutuhkan pada era ini mencakup karakter yang baik, sejumlah keterampilan seperti berpikir kritis, kreatif, problem solving, kolaborasi, dan komunikasi, serta penguasaan literasi dalam berbagai bentuk. Soal-soal HOTS dalam penilaian dapat melatih peserta didik untuk mengembangkan keterampilan tersebut melalui latihan menyelesaikan permasalahan nyata.

2. Pembangunan Rasa Cinta dan Kepedulian

Guru diharapkan mampu mengembangkan soal-soal HOTS secara kreatif yang sesuai dengan konteks daerahnya. Dengan menggunakan stimulus berbasis permasalahan lokal, guru dapat membuat soal yang menarik dan relevan bagi peserta didik. 

Ini tidak hanya meningkatkan kebermaknaan pembelajaran tetapi juga merangsang rasa memiliki dan cinta terhadap potensi-potensi lokal. Peserta didik diharapkan menjadi agen perubahan yang terlibat dalam memecahkan permasalahan di lingkungan mereka.

3. Meningkatkan Motivasi Belajar

Penyajian soal-soal HOTS dalam penilaian dapat menjadi stimulan yang efektif untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Dengan mengaitkan tantangan dan masalah nyata yang dihadapi masyarakat sekitar, soal-soal HOTS memberikan makna yang lebih dalam bagi peserta didik.

Ini menciptakan hubungan langsung antara pendekatan pembelajaran di kelas dengan aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari, mendorong peserta didik untuk lebih antusias dalam memahami dan mengatasi permasalahan.

4. Peningkatan Kualitas Penilaian

Penilaian yang berkualitas merupakan kunci untuk meningkatkan mutu pendidikan. Soal-soal HOTS, dengan fokus pada kemampuan berpikir tingkat tinggi, menjadi instrumen penting dalam mencapai tujuan ini. Melatih siswa untuk berpikir kritis dan kreatif melalui soal-soal HOTS diharapkan dapat menciptakan hasil penilaian yang lebih akurat dan bermakna. Penyisipan soal-soal HOTS dalam ujian sekolah juga membantu menyelaraskan persiapan peserta didik untuk menghadapi ujian nasional yang semakin mendorong pemecahan masalah tingkat tinggi.

Pembelajaran Berbasis HOTS dalam Kurikulum Merdeka

Penerapan Kurikulum Merdeka telah mengubah paradigma sistem pembelajaran di Indonesia. Dari yang sebelumnya berpusat pada guru, kini berubah menjadi berpusat pada siswa. Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya diharapkan untuk menguasai materi, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah meluncurkan berbagai program, termasuk Kurikulum Merdeka, untuk meningkatkan mutu pendidikan di Tanah Air. Perubahan ini dipandang sebagai peluang untuk membuat pendidikan lebih baik dan bermakna.

Prinsip Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan minat dan bakatnya. Setiap peserta didik diakui memiliki karakteristik dan kemampuan yang unik. Konsepnya adalah bahwa tidak ada anak yang terlahir bodoh; yang ada adalah anak yang belum mendapatkan layanan pendidikan sesuai dengan potensi dan kecerdasannya.

Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka difokuskan pada siswa, menuntut mereka untuk dapat berpikir kritis agar mampu menghadapi tuntutan era abad ke-21. Guru dan siswa diharapkan memiliki kemampuan Higher Order Thinking Skills (HOTS) untuk merespons perubahan ini.

HOTS adalah suatu konsep pembelajaran tingkat tinggi yang melibatkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis, kreatif, dan analitis. Konsep ini muncul dari revisi Taksonomi Bloom, yang mengkategorikan tingkatan pemikiran siswa dari yang sederhana hingga tinggi. Tingkatan 1 hingga 3 dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat rendah (LOTS), sedangkan tingkatan 4 sampai 6 dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS).

Dengan menerapkan HOTS, diharapkan setiap lulusan dapat mengembangkan kecakapan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreatif, inovatif, berkarakter, kompeten, dan literat. Pendekatan ini mengubah fokus penilaian dari setiap subjek menjadi penilaian lintas mata pelajaran.

Dalam Kurikulum Merdeka, penilaian melibatkan literasi, numerasi, dan survei karakter. Literasi tidak hanya mencakup kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menganalisis isi bacaan dan memahami konsep di baliknya. Numerasi bukan hanya mengukur kemampuan matematika, tetapi juga kemampuan menerapkan konsep numerik dalam kehidupan nyata. Survei karakter tidak hanya tes, melainkan pencarian sejauh mana siswa menerapkan asas-asas Pancasila.

Siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis cenderung senang mengembangkan ide-ide mereka dengan menggali informasi dan bukti untuk memperkuat argumen mereka. Dalam proses pembelajaran, siswa didorong untuk aktif bertanya dan mendengarkan pendapat orang lain sebagai bahan pertimbangan dalam memecahkan masalah.

Dalam konteks Kurikulum Merdeka, penerapan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) menjadi kunci. Pembelajaran ini melibatkan siswa dalam memecahkan masalah melalui metode ilmiah, memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan yang terkait dengan masalah tersebut serta keterampilan untuk memecahkan masalah.

Penerapan Kurikulum Merdeka, bersama dengan pengembangan HOTS, dapat membentuk siswa yang adaptif. Keterampilan adaptif melibatkan kematangan diri dan kesiapan sosial seseorang dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Siswa yang terbiasa menangani berbagai masalah cenderung lebih adaptif dan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah dengan strategi yang tepat.

Baca Juga:

Dengan demikian, peran soal HOTS bukan hanya sebatas sebagai instrumen soal dan penilaian, tetapi juga sebagai alat penting dalam membentuk karakter, meningkatkan motivasi, dan memberikan relevansi praktis dalam pembelajaran peserta didik. 

Muh. Akbar
Muh. Akbar "Live with an attitude of gratitude for the experiences that shape you, and learn with an insatiable hunger for understanding the world and your place in it."